"https://api.twitter.com/1/statuses/user_timeline/AndyNowiya.json?callback=twitterCallback2&count=1" "https://api.twitter.com/1/statuses/user_timeline.json?screen_name=AndyNowiya.json?callback=twitterCallback2&count=5"

Tembang 'Tombo Ati': Kyai Kanjeng & Cak Nun


Kyai kanjeng + Cak Nun
Kepada engkau yang menyimpan kesengsaraan dalam kebisuan.
Kepada engkau yang menangis dalam batin karena dikalahkan, karena disingkirkan, diusir, ditinggalkan.
Atau karena sangat-sangat susah ketemu dengan yang namanya keadilan.
Aku ingin bertamu di lubuk hatimu sodara-sodara.
Untuk mengajakmu istirahat sejenak.
Mengendapkan hati dan bernyanyi, mengendapkan hati dan bernyanyi.

Saudara-saudaraku sesama orang kecil dipinggir jalan.
Sedulur-sedulurku di dusun-dusun, di kampung-kampung perkotaan.
Karib-karibku di gang-gang kotor, gubuk-gubuk tepi sungai yang darurat.
Atau mungkin saudara-saudaraku di rumah-rumah besar, di kantor-kantor mewah.
Namun memendam semacam keperihan diam-diam.

Aku ajak engkau semua sahabat-sahabatku, saudara-saudaraku.
Untuk menarik nafas sejenak.
Duduk bersandar,  atau membaringkan badan.
Kuajak engkau menjernihkan pikiran.

Untuk menata hati.
Menemukan kesalahan-kesalahan kita semua untuk tidak kita ulangi lagi.
Atau meneguhkan kebenaran-kebenaran untuk kita perjuangkan kembali.
Ayolah saudara-saudara. Rileks…

Ilaahi lastu lilfirdausi ahla, walaa aqwa 'alannaril jahiimi..
Tombo ati.. Iku ana limang perkara..
Kaping pisan.. Maca Qur'an sak maknane..
Kaping pindo.. Shalat wengi lakonana..
Kaping telu.. Wong kang sholeh kumpulana..
Kaping papat.. Weteng ira ingkang luwe..
Kaping lima.. Dzikir wengi ingkang suwe..
Salah sawijine.. Sapa bisa ngelakoni..
Insya Allah.. Gusti Pengeran ngijabahi...

*(Artinya:
Wahai Tuhan kutak layak kesurgamu, namun tak pula aku sanggup ke nerakamu..
Obat hati, Itu ada lima perkara..
Yang pertama, baca Qur'an dan maknanya..
Yang kedua, shalat malam dirikanlah..
Yang ketiga, berkumpullah dengan orang soleh..
Yang keempat, kuatkanlah menahan lapar..
Yang kelima, zikir malam perbanyaklah..
Salah satunya, siapa bisa menjalani..
Insya Allah Yang Mahakuasa Mengkabulkan (do’a)..

> Repos dengan penambahan. (red)

Hijrah Perbuatan, Pergaulan dan Perantauan

Senja di cakrawala
“Selamat tahun baru Islam mas.” sapa salah seorang bapak mekanik di lapangan. Sambil nyodorkan tangan dan mengulum senyum, ngajak salaman. Salam bahagia dari seorang pekerja keras yang nggak dapet jatah hari libur kayak pekerja kantoran. Namun beliau nampak tetap sumringah menikmati permulaan Hijriah, tahun baru Islam. Momentum hijrahnya Nabi Muhammad, pemimpin pergerakan umat manusia. Tahun mulia yang malah aku hampir nggak ingat, apalagi ngucapkan salam bahagia seperti bapak tadi. 
Kebetulan kulirik salah satu kanal tivi, lagi tampil penceramah paruh baya yang populer sama gaya tawa khasnya. Mbawakan materi yang cocok sama momentum hari ini. “Hijrah dalam Islam ada tiga arti: hijrah perbuatan, hijrah pergaulan, dan hijrah berpindah.” begitu mulanya. Hijrah perbuatan misalnya buang jauh perilaku buruk yang jadi kebiasaan. Simpelnya, yang doyan maksiat mulai dikurangi sedikit-sedikit, tambah yang baik-baik, nanti bisa jadi bener.
Kalo hijrah pergaulan contoh populernya, dekat-dekat sama tukang las pasti bajunya bolong-bolong, kalau dekat penjual wangi-wangian pasti kena wanginya. Mudahnya, tambah rekan-rekan berperilaku baik dan perkuat silaturahminya. Tapi tidak juga tinggalkan temen yang belum bisa sama baiknya, karena bisa jadi nanti akan jauh lebih baik lagi. Tergantung yang mbikin hati, mau mbalik hati mahluknya kapan, umur berapa, dimana tempatnya, itu urusan Penciptanya.
 Lha kalau hijrah berpindah ini, silahkan diartikan sendiri sesuai selera dan pendapat masing-masing. Anak lulus sekolah dasar pengen nyantri, bisa dikatakan hijrah. Lulus sekolah di desa mau kuliah di kota disebut hijrah juga boleh. Bosan tinggal dikota, pengen berpetualang  dari kampung ke kampung berniat “sosial-spiritual” ya monggo. Nyoba tantangan merantau ngangsu kawaruh ke daerah berbeda suku dan budaya juga nggak ada salahnya. Bisa-bisa saja.
Sekedar mengingatkan sabda Kanjeng Nabi seputar niat dan Hijrah, “Sesungguhnya setiap perbuatan bergantung pada niatnya. Orang yang berhijrah diniatkan karena Allah dan Rasulnya, maka hijrahnya dapat Allah dan Rasulnya. Dan siapa saja yang berhijrah karena ingin menguasai dunia, atau karena wanita yang ingin dinikahinya. Maka hijrahnya hanya dapat yang dia inginkan.” Cocok untuk diresapi agar “nawaitu” nya tidak keliru. Sekedar nasehat pribadi.
Guru spiritual dikampus pernah berpesan, “Dekat-dekatlah dengan Allah. Namun jika masih dalam proses pembelajaran, dekat-dekatlah dengan orang yang sudah dekat dengan Allah.” Dimanapun dan kapanpun berada, pasti ada kesempatan mendekatkan diri pada sang Pencipta. Kalau kesempatan itu belum datang, bisa dengan berkawan dengan orang-orang yang dipercayai perbuatannya baik dan bisa ditiru. Bisa guru, teman, atasan, atau mungkin bawahan.
Intinya, momen tahun baru hijriah begini tidak dilewatkan begitu saja. Bisa juga dijadikan momentum “hijrah” pada diri sendiri, dimulai dari hal yang paling mudah, dari hal-hal kecil, dan mulai dari sekarang. Biasanya proses menuju perbaikan diri lebih mudah terwujud, ketika bertemu momentumnya. Dengarkan nasehat orang tua, simak petuah sesepuh di perkumpulan atau komunitas, atau renungkan bersama rekan-rekan senasib seperantauan. J


Sepuluh Jari, Sepasang Mata-Telinga dan Satu Mulut

“Kalau ada di wilayah orang, bicara seperlunya saja, biar kita selamat” ini nasihat bijak dari pak Radang, bukan mubalig ataupun Kyai, tapi seorang mekanik struktur baja. Bapak paruh baya asal Pangkep Makassar ini ahli dibidang fitter alias tukang presisi. Tapi solatnya bukan main rajinnya, dan sering mengingatkanku untuk solat setelah bekerja. Nasihat ini pasti tidak asing di telinga anda semua, mungkin dengan redaksi yang sedikit berbeda, tapi maksud dan intinya sama.
Ketika bercermin, coba lihat baik-baik organ "vital" di wajah kita, mulut, mata, dan telinga. Mengapa mulut diciptakan tidak sama banyak dengan mata dan telinga? Dan lihat dalam mulut ada lidah, bandingkan lidah yang lunak tidak bertulang dan tidak dilindungi, dengan mata yang dilindungi kelopak dan telinga yang bertulang lunak? Anda punya jawaban sendiri pastinya. Pengalamanku, dulu sering gunakan mulut daripada mata dan telinga. Hasilnya, jiwa terasa bodoh, susah menggunakan perasaan, juga pastinya banyak bencana, dan hasilnya nggak baik juga. Nggak pengen begitu kan?
Anugrah sepasang mata, telinga dan hanya satu mulut ini, tampaknya agar lebih banyak fungsikan yang sepasang, daripada yang cuma satu. Mari renungkan, dengan apa bayi yang baru lahir memahami suara ibu dan mengenal alam sekitarnya? Betul, dengan melihat dan mendengarnya, ini berlanjut sampai dia belajar menjadi dewasa. Pasti proses memahami hidup ini dengan mata dan telinganya.
Mata untuk belajar dari buku dan dari alam, telinga untuk mendengar segala sesuatu yang dibutuhkan otak dan hati. Bisa petunjuk, nasihat, perintah dan lain sebagainya. Intinya adalah proses pembelajaran ini lebih banyak dengan melihat dan mendengar, dari pada bicara. Karena logikanya otak menerima informasi dari mata dan telinga, sedangkan berbicara kan melepas informasi. Tapi nggak apa-apa juga kalau banyak bicara, banyak mendengar dan juga melihat. Bahkan ada profesi yang wajib banyak bicara. Nggak ada yang nyalahin kalo hati-hati.
Pertanyaan terakhir adalah mengapa jari tangan dan kaki yang jumlahnya sama-sama sepasang, tapi lima kali lipat dari pada mata dan telinga. Hayo kenapa… Pasti punya jawaban sendiri. Logika sederhananya kan setelah melihat dan mendengar masukan atau ilmu yang baik harus diaplikasikan, kalau perintah sesuai hati dan logika ya dikerjakan. Tangan mencatat, kaki melangkah, mulailah dikerjakan.
Kalau mata melihat dan telinga mendengar suatu peluang yang baik segera bertindak, tidak perlu banyak pikir-pikir, lakukan saja. Kalau salah masih bisa diperbaiki, kalau lama mikir, lama juga kerjanya. Nggak ada yang salah dengan sebuah proses yang gagal, justru yang takut atau tidak mau mengalami kegagalan itu yang salah. Ibarat bayi belajar berjalan, dia pasti jatuh bangun, tapi dia akan berani berdiri lagi dan tidak takut jatuh lagi.
Anak kecil yang sedang belajar sepeda pun begitu. Seorang pedagang sukses juga pasti mengalami masa sulit, gagal, ditipu, dan itu jadi vitamin penguat mental pengusaha. Sense of business nya, ya mengalami untung-rugi begitu. Nah, karna topiknya udah melebar kemana-mana, kembali ke renungan kenapa aku punya satu mulut, sepasang mata dan telinga, dan sepuluh pasang jari. Karena Allah, sang Mahaguru mengajarkan untuk banyak melihat, mendengar, dan bekerja. Bukan banyak bicara. 

Pepatah Jawa bilang “Ajining rogo ono ing busono, ajining diri ono ing lathi, ajining jiwo ono ing agomo”. Kurang lebih artinya: “Fisik seseorang dinilai dari penampilan, kepribadiannya dinilai dari bicaranya, dan jiwanya dinilai dari agama. Peribahasa dari Arab pun ada. “Man katsuro kalaamihi, katsuro malaamihi”, Siapa yang banyak bicaranya, banyak juga bencananya. Nasehat Kanjeng Nabi paling populer, “Man kaana yu’minu billahi walyaumil akhir, fal yaqul khoiron au liyasmut. Intinya bicara yang baik, atau diam saja! Ini hanya nasehat pribadi, sekedar “penawar” hati. J