"https://api.twitter.com/1/statuses/user_timeline/AndyNowiya.json?callback=twitterCallback2&count=1" "https://api.twitter.com/1/statuses/user_timeline.json?screen_name=AndyNowiya.json?callback=twitterCallback2&count=5"

Sepuluh Jari, Sepasang Mata-Telinga dan Satu Mulut

“Kalau ada di wilayah orang, bicara seperlunya saja, biar kita selamat” ini nasihat bijak dari pak Radang, bukan mubalig ataupun Kyai, tapi seorang mekanik struktur baja. Bapak paruh baya asal Pangkep Makassar ini ahli dibidang fitter alias tukang presisi. Tapi solatnya bukan main rajinnya, dan sering mengingatkanku untuk solat setelah bekerja. Nasihat ini pasti tidak asing di telinga anda semua, mungkin dengan redaksi yang sedikit berbeda, tapi maksud dan intinya sama.
Ketika bercermin, coba lihat baik-baik organ "vital" di wajah kita, mulut, mata, dan telinga. Mengapa mulut diciptakan tidak sama banyak dengan mata dan telinga? Dan lihat dalam mulut ada lidah, bandingkan lidah yang lunak tidak bertulang dan tidak dilindungi, dengan mata yang dilindungi kelopak dan telinga yang bertulang lunak? Anda punya jawaban sendiri pastinya. Pengalamanku, dulu sering gunakan mulut daripada mata dan telinga. Hasilnya, jiwa terasa bodoh, susah menggunakan perasaan, juga pastinya banyak bencana, dan hasilnya nggak baik juga. Nggak pengen begitu kan?
Anugrah sepasang mata, telinga dan hanya satu mulut ini, tampaknya agar lebih banyak fungsikan yang sepasang, daripada yang cuma satu. Mari renungkan, dengan apa bayi yang baru lahir memahami suara ibu dan mengenal alam sekitarnya? Betul, dengan melihat dan mendengarnya, ini berlanjut sampai dia belajar menjadi dewasa. Pasti proses memahami hidup ini dengan mata dan telinganya.
Mata untuk belajar dari buku dan dari alam, telinga untuk mendengar segala sesuatu yang dibutuhkan otak dan hati. Bisa petunjuk, nasihat, perintah dan lain sebagainya. Intinya adalah proses pembelajaran ini lebih banyak dengan melihat dan mendengar, dari pada bicara. Karena logikanya otak menerima informasi dari mata dan telinga, sedangkan berbicara kan melepas informasi. Tapi nggak apa-apa juga kalau banyak bicara, banyak mendengar dan juga melihat. Bahkan ada profesi yang wajib banyak bicara. Nggak ada yang nyalahin kalo hati-hati.
Pertanyaan terakhir adalah mengapa jari tangan dan kaki yang jumlahnya sama-sama sepasang, tapi lima kali lipat dari pada mata dan telinga. Hayo kenapa… Pasti punya jawaban sendiri. Logika sederhananya kan setelah melihat dan mendengar masukan atau ilmu yang baik harus diaplikasikan, kalau perintah sesuai hati dan logika ya dikerjakan. Tangan mencatat, kaki melangkah, mulailah dikerjakan.
Kalau mata melihat dan telinga mendengar suatu peluang yang baik segera bertindak, tidak perlu banyak pikir-pikir, lakukan saja. Kalau salah masih bisa diperbaiki, kalau lama mikir, lama juga kerjanya. Nggak ada yang salah dengan sebuah proses yang gagal, justru yang takut atau tidak mau mengalami kegagalan itu yang salah. Ibarat bayi belajar berjalan, dia pasti jatuh bangun, tapi dia akan berani berdiri lagi dan tidak takut jatuh lagi.
Anak kecil yang sedang belajar sepeda pun begitu. Seorang pedagang sukses juga pasti mengalami masa sulit, gagal, ditipu, dan itu jadi vitamin penguat mental pengusaha. Sense of business nya, ya mengalami untung-rugi begitu. Nah, karna topiknya udah melebar kemana-mana, kembali ke renungan kenapa aku punya satu mulut, sepasang mata dan telinga, dan sepuluh pasang jari. Karena Allah, sang Mahaguru mengajarkan untuk banyak melihat, mendengar, dan bekerja. Bukan banyak bicara. 

Pepatah Jawa bilang “Ajining rogo ono ing busono, ajining diri ono ing lathi, ajining jiwo ono ing agomo”. Kurang lebih artinya: “Fisik seseorang dinilai dari penampilan, kepribadiannya dinilai dari bicaranya, dan jiwanya dinilai dari agama. Peribahasa dari Arab pun ada. “Man katsuro kalaamihi, katsuro malaamihi”, Siapa yang banyak bicaranya, banyak juga bencananya. Nasehat Kanjeng Nabi paling populer, “Man kaana yu’minu billahi walyaumil akhir, fal yaqul khoiron au liyasmut. Intinya bicara yang baik, atau diam saja! Ini hanya nasehat pribadi, sekedar “penawar” hati. J

0 komentar:

Posting Komentar