“Kalau ada di wilayah orang, bicara
seperlunya saja, biar kita selamat” ini nasihat bijak dari pak Radang, bukan
mubalig ataupun Kyai, tapi seorang mekanik struktur baja. Bapak paruh baya
asal Pangkep Makassar ini ahli dibidang
fitter alias tukang presisi. Tapi solatnya bukan main rajinnya, dan sering
mengingatkanku untuk solat setelah bekerja. Nasihat ini pasti tidak asing di
telinga anda semua, mungkin dengan redaksi yang sedikit berbeda, tapi maksud
dan intinya sama.
Ketika bercermin, coba lihat baik-baik organ "vital" di
wajah kita, mulut, mata, dan telinga. Mengapa mulut diciptakan tidak
sama banyak dengan mata dan telinga? Dan lihat dalam mulut ada lidah,
bandingkan lidah yang lunak tidak bertulang dan tidak dilindungi, dengan mata
yang dilindungi kelopak dan telinga yang bertulang lunak? Anda punya jawaban
sendiri pastinya. Pengalamanku, dulu sering gunakan mulut daripada mata dan
telinga. Hasilnya, jiwa terasa bodoh, susah menggunakan perasaan, juga pastinya
banyak bencana, dan hasilnya nggak baik juga. Nggak pengen begitu kan?
Anugrah sepasang mata, telinga dan hanya
satu mulut ini, tampaknya agar lebih banyak fungsikan yang sepasang, daripada
yang cuma satu. Mari renungkan, dengan apa bayi yang baru lahir memahami suara
ibu dan mengenal alam sekitarnya? Betul, dengan melihat dan mendengarnya, ini
berlanjut sampai dia belajar menjadi dewasa. Pasti proses memahami hidup ini
dengan mata dan telinganya.
Mata untuk belajar dari buku dan dari
alam, telinga untuk mendengar segala sesuatu yang dibutuhkan otak dan hati. Bisa
petunjuk, nasihat, perintah dan lain sebagainya. Intinya adalah proses
pembelajaran ini lebih banyak dengan melihat dan mendengar, dari pada bicara. Karena
logikanya otak menerima informasi dari mata dan telinga, sedangkan berbicara kan
melepas informasi. Tapi nggak apa-apa juga kalau banyak bicara, banyak mendengar
dan juga melihat. Bahkan ada profesi yang wajib banyak bicara. Nggak ada yang
nyalahin kalo hati-hati.
Pertanyaan terakhir adalah mengapa
jari tangan dan kaki yang jumlahnya sama-sama sepasang, tapi lima kali lipat
dari pada mata dan telinga. Hayo kenapa… Pasti punya jawaban sendiri. Logika
sederhananya kan setelah melihat dan mendengar masukan atau ilmu yang baik harus
diaplikasikan, kalau perintah sesuai hati dan logika ya dikerjakan. Tangan mencatat,
kaki melangkah, mulailah dikerjakan.
Kalau mata melihat dan telinga
mendengar suatu peluang yang baik segera bertindak, tidak perlu banyak pikir-pikir,
lakukan saja. Kalau salah masih bisa diperbaiki, kalau lama mikir, lama juga
kerjanya. Nggak ada yang salah dengan sebuah proses yang gagal, justru yang takut
atau tidak mau mengalami kegagalan itu yang salah. Ibarat bayi belajar
berjalan, dia pasti jatuh bangun, tapi dia akan berani berdiri lagi dan tidak
takut jatuh lagi.
Anak kecil yang sedang belajar sepeda pun begitu. Seorang pedagang sukses juga pasti mengalami masa sulit, gagal, ditipu, dan itu jadi vitamin
penguat mental pengusaha. Sense of
business nya, ya mengalami untung-rugi begitu. Nah, karna topiknya udah melebar
kemana-mana, kembali ke renungan kenapa aku punya satu mulut, sepasang mata dan
telinga, dan sepuluh pasang jari. Karena Allah, sang Mahaguru mengajarkan untuk
banyak melihat, mendengar, dan bekerja. Bukan banyak bicara.
Pepatah Jawa bilang “Ajining rogo ono ing busono, ajining diri
ono ing lathi, ajining jiwo ono ing agomo”. Kurang lebih artinya: “Fisik
seseorang dinilai dari penampilan, kepribadiannya dinilai dari bicaranya, dan
jiwanya dinilai dari agama. Peribahasa dari Arab pun ada. “Man katsuro
kalaamihi, katsuro malaamihi”, Siapa yang banyak bicaranya, banyak juga
bencananya. Nasehat Kanjeng Nabi paling populer, “Man kaana yu’minu billahi
walyaumil akhir, fal yaqul khoiron au liyasmut. Intinya bicara yang baik, atau
diam saja! Ini hanya nasehat pribadi, sekedar “penawar” hati. J

0 komentar:
Posting Komentar