"https://api.twitter.com/1/statuses/user_timeline/AndyNowiya.json?callback=twitterCallback2&count=1" "https://api.twitter.com/1/statuses/user_timeline.json?screen_name=AndyNowiya.json?callback=twitterCallback2&count=5"

Renungan Nusantara 3: Menyorong 'Rembulan'

Cak Nun di peringatan 1 abad HB-IX (dok @poetrafoto)
Gerhana rembulan hampir total, malam gelap gulita. Matahari berada pada satu garis dengan bumi dan rembulan. Cahaya matahari yang memancar ke rembulan, tidak sampai kepermukaan rembulan karena ditutupi oleh bumi. Sehingga bulan tidak bisa memantulkan cahaya matahari ke permukaan bumi. Matahari adalah lambang Tuhan, cahaya matahari adalah rahmat nilai kepada bumi, yang semestinya dipantulkan oleh rembulan.
Rembulan adalah para kekasih Allah, para rasul, para nabi, para ulama, para cerdik-cendekia, para pujangga dan siapapun saja yang memantulkan cahaya matahari atau nilai-nilai Allah untuk mendayagunakannya di bumi. Karena bumi menutupi cahaya matahari maka malam gelap gulita, dan di dalam kegelapan segala yang buruk terjadi. Orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas.
Orang menyangka kepala adalah kaki, orang menyangka utara adalah selatan. Orang bertabrakan satu sama lain. Orang tidak sengaja menjegal satu sama lain atau bahkan sengaja saling menjegal satu sama lain. Di dalam kegelapan orang tidak punya pedoman yang jelas untuk melangkah akan kemana melangkah dan bagaimana melangkah.
Ilir-ilir, kita memang sudah ‘ngelilir’, kita sudah bangun, sudah bangkit, bahkan kaki kita sudah berlari kesana kemari, namun akal pikiran kita belum, hati nurani kita belum! Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut, namun ajaran-ajarannya kita biarkan hidup subur di dalam aliran darah dan jiwa kita. Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik. Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian kenapa bukan kita yang maling.
Kita mencaci penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya. Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara syetan, yakni melarangnya untuk insyaf dan bertobat. Kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur. Kita menolak pemusnahan dengan merancang pemusnahan-pemusnahan. Kita menghujat para penindas dengan riang gembira, sebagaimana iblis yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri.
Siapakah selain setan, iblis dan dajjal yang menolak khusnul khotimah manusia, yang memblokade pintu surga, yang menyorong mereka mendekat ke pintu neraka. Sesudah ditindas kita menyiapkan diri untuk menindas. Sesudah diperbudak kita siaga untuk ganti memperbudak. Sesudah diancurkan kita susun barisan untuk menghancurkan.
Yang kita bangkitkan bukan pembaruan-kebersamaan, melainkan asyiknya perpecahan. Yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan tapi menggelegaknya kecurigaan. Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan, melainkan parasangka dan fitnah. Yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka, melainkan rencana-rencana panjang untuk menyelenggarakan perang saudara. Yang kita kembang suburkan adalah kebiasaan memakan bangkai saudara-saudara kita sendiri.
Kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta, melainkan mempersempit dunia kita sendiri, dengan lubang-lubang kebencian dan iri hati. Pilihanku dan pilihanmu adalah, apakah kita akan menjadi bumi yang mempergelap cahaya matahari. Sehingga bumi kita sendiri tidak akan mendapatkan cahayanya. Atau kita berfungsi menjadi rembulan, kita sorong diri kita bergeser ke alam yang lebih tepat, agar kita bisa dapatkan sinar matahari dan kita pantulkan nilai-nilai Tuhan itu kembali, ke bumi.
~Cak Nun

Renungan Nusantara 2: 'Ilir-Ilir' Kanjeng Sunan Ampel

Kyai Kanjeng + Cak Nun 
"Dhodot iro dhodot iro kumitir bedah ing pinggir, pakaian kebangsaan kita, harga diri nasionalisme kita, telah sobek-sobek oleh tradisi penindasan, oleh tradisi kebodohan, oleh tradisi keserakahan yang tidak habis-habis. “Dondom-ono, jlumat-ono kanggo sebo mengko sore,” harus kita jahit kembali, harus kita benahi lagi, harus kita utuhkan kembali, agar supaya kita siap untuk menghadap ke masa depan. 
Memang kita sudah lir-ilir, sudah ngelilir sudah terbangun dari tidur, sudah bangun. Sudah bangkit sesudah tidur terlalu nyenyak selama 30 tahun atau mungkin lebih lama dari itu. Kita memang sudah bangkit, beribu-ribu kaum muda berjuta-juta rakyat sudah bangkit keluar rumah dan memenuhi jalanan. Membanjiri sejarah dengan semangat menguak kemerdekaan yang telalu lama diidamkan. Akan tetapi mungkin karena terlalu lama kita tidak merdeka, sekarang kita tidak begitu mengerti bagaimana mengerjakan kemerdekaan. Sehingga tidak paham beda antara demokasi dengan anarki.
Terlalu lama kita tidak boleh berpikir lantas sekarang hasil pikiran kita keliru-keliru sehingga tak sanggup membedakan mana asap mana api, mana emas mana loyang, mana nasi dan mana tinja! Terlalu lama kita hidup didalam ketidak menentuan nilai. Lantas sekarang semakin kabur pandangan kita, atas nilai-nilai yang berlaku dalam diri kita sendiri. Sehingga yang kita jadikan pedoman kebenaran hanyalah kemauan kita sendiri, nafsu kita sendiri, kepentingan kita sendiri.
Terlalu lama kita hidup dalam kegelapan, sehingga kita tidak mengerti bagaimana melayani cahaya, sehingga kita tidak becus mengurusi bagaimana cahaya terang. Sehingga  dalam kegelapan gerhana rembulan, yang membikin kita buntu sekarang. Kita junjung-junjung pengkhianat dan kita buang para pahlawan. Kita bela kelicikan dan kita curigai ketulusan.
~Cak Nun

(bersambung ke renungan 3)


Renungan Nusantara 1: 'Ilir-Ilir' Sunan Ampel

Kyai Kanjeng & Cak Nun
Bisakah luka yang teramat dalam ini nantinya akan sembuh. Bisakah kekecewan dan keputusasaan yang mengiris-iris hati, berpuluh-puluh juta saudara kita ini pada akhirnya nanti akan kikis. Adakah kemungkinan kita merangkak naik kebumi, dari jurang yang teramat curam dan dalam. Akankah api akan berkobar-kobar lagi, apakah asap akan membumbung tinggi dan memenuhi angkasa tanah air. Akankah kita akan bertabrakan lagi jarah menjarah dengan pengorbanan yang tak terkirakan.
Adakah kita tahu apa yang sebenarnya sedang kita jalani. Bersediakah sebenarnya kita untuk tau persis apa yang sesungguhnya kita cari. Cakrawala manakah yang menjadi tujuan sebenarnya langkah-langkah kita. Pernahkah kita bertanya bagaimana cara melangkah yang benar. Pernakah kita mencoba menyesali hal-hal yang barangkali, perlu kita sesali, dari prilaku-prilaku kita yang kemarin. Bisakah kita menumbuhkan kerendah hatian dibalik kebanggaan-kebanggaan.
Masih tersediakah ruang di dalam dada kita dan akal kepala kita, untuk sesekali berkata pada diri kita sendiri bahwa yang bersalah bukan hanya mereka. Bahwa yang melakukan dosa bukan ia tetapi juga kita. Masih tersediakah peluang didalam kerendahan hati kita, untuk mencari apapun saja yang kira-kira kita perlukan, meskipun barang kali menyakitkan diri kita sendiri. Mencari hal-hal yang benar-benar kita butuhkan supaya sakit, sakit, sakit kita ini benar benar sembuh total.
 Sekurang-kurangnya dengan perasaan santai kepada diri kita sendiri, untuk menyadari dengan sportif. Bahwa yang mesti disembuhkan bukanlah yang berada diluar tubuh kita, tetapi didalam diri kita. Yang perlu utama kita lakukan adalah penyembuhan diri. Yang kita yakini harus betul-betul disembuhkan, justru adalah segala sesuatu yang berlaku didalam hati dan akal pikiran kita. Saya ingin mengajak engkau semua memasuki dunia Lir Ilir. 
"Lir ilir… Lir ilir… Tandure wus sumilir tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar."
Kanjeng Sunan Ampel seakan-akan baru hari ini, bertutur kepada kita, tentang kita. Tentang segala sesuatu yang kita mengalaminya sendiri, namun tidak kunjung sanggup kita mengerti. Sejak lima abad silam syair itu telah Ia lantunkan, dan tak ada jaminan bahwa sekarang kita sudah paham. Padahal kata-kata beliau mengeja kehidupan kita ini sendiri. Alfa, beta, alif, ba’, ta’, kebingungan sejarah kita dari hari-kehari. Sejarah tentang sebuah negeri yang puncak kerusakannya, terletak pada ketidak sanggupan para penghuninya.
Untuk mengakui betapa kerusakan itu sudah sedemikian tidak terperih. “Menggeliatlah dari matimu!” tutur sang Sunan. Siumanlah dari pingsan berpuluh-puluh tahun, bangkitlah dari nyenyak tidurmu. Sungguh negeri ini adalah penggalan Surga! Surga seakan-akan pernah bocor mencipratkan kekayaan dan keindahannya. Dan cipratan keindahan itu bernama Indonesia Raya! Kau bisa tanam benih kesejahteraan apa saja, diatas kesuburan tanahnya yang tidak terkirakan. Ditengah hijau bumi kepulauan yang bergandeng-gandeng mesra.
Tapi kita memang telah tidak mensyukuri, rahmat sepenggal surga ini. Kita telah memboroskan anugerah Tuhan ini dengan bercocok tanam ketidakadilan, dan panen-panen kerakusan. 
“Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi. Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dhodot iro.” 
Kanjeng Sunan tidak memilih figur misalnya “Pak Jendral… Pak Jendral…”. Juga bukan intelektual, ulama-ulama, seniman, sastrawan atau apapun, tetapi cah angon.
Beliau juga menuturkan “penekno blimbing kuwi,” bukan “Penekno pelem kuwi.”. Bukan “penekno sawo kuwi”, bukan penekno buah yang lain, tapi belimbing, bergigir lima. Terserah apa tafsirmu tentang lima, yang jelas harus ada yang memanjat pohon yang licin itu. “lunyu-lunyu penekno” agar belimbing bisa kita capai bersama. Dan yang harus memanjat adalah cah angon, anak gembala. Tentu saja dia boleh seorang doktor, kyai, ulama, seniman, sastrawan atau siapapun.
Namun dia harus memiliki daya angon, daya menggembalakan. Kesanggupan untuk ngemong semua pihak. Karakter untuk merangkul dan memesrai siapa saja sesama saudara sebangsa. Determinasi yang menciptakan garis besutan kedamaian bersama. Pemancar kasih sayang yang dibutuhkan dan diterima semua warna, semua golongan, semua kecendrungan. Bocah angon adalah pemimpin nasional, bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan.
Selicin apapun pohon-pohon tinggi reformasi ini, sang bocah angon harus memanjat sampai selamat memperoleh buahnya. Bukan ditebang, dirobohkan, atau diperebutkan. Dan air sari pati belimbing gigir lima itu, diperlukan bangsa ini untuk mencuci pakaian nasionalnya. Pakaian adalah akhlak, pakaian adalah yang menjadikan manusia bukan binatang. Kalau engkau tidak percaya, berdirilah di depan pasar. Dan copotlah pakaianmu maka engkau kehilangan harkatmu sebagai manusia.
Pakaianlah yang membuat manusia bernama manusia. Pakaian adalah pegangan nilai, landasan moral, dan sistem nilai. Sistem nilai itulah yang harus kita cuci dengan pedoman lima!
"Dhodot iro dhodot iro kumitir bedah ing pinggir, dondom-ono jlumat ono-kanggo sebo mengko soreMumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane yo surako surak iyo."
Satu tembang tidak selesai ditafsirkan dengan seribu jilid buku. Satu lantunan syair tidak selesai ditafsirkan dengan waktu seribu bulan dan seribu orang melakukannya. Aku ingin mengajakmu untuk berkeliling utuk memandang warna-warni yang bermacam-macam dengan membiarkan mereka dengan warnanya masing-masing. Agar kita mengerti dengan hati dan ketulusan kita. Apa muatan kalbu mereka mengenai lir-ilir, mengenai ijo royo-royo, mengenai temanten anyar, mengenai bocah angon dan belimbing, mengenai mbasuh dodot iro dan mengenai kumitir bedah ing pinggir.
Yang akan kita bicarakan tentu saja kapan saja bersama-sama. Tapi aku ingin mengajakmu untuk mendengarkan siapa saja diantara sauara-saudara kita tanpa perlu kita larang-larang untuk menjadi ini atau untuk menjadi itu. Asalkan kita bersepakat bahwa bersama-sama mereka semua kita akan menyumbangkan yang terbaik bagi semuanya. Bukan hanya bagi ini, atau itu, bukan hanya bagi yang disini atau yang disana.
~Cak Nun

(bersambung ke renungan 2)