![]() |
| Cak Nun di peringatan 1 abad HB-IX (dok @poetrafoto) |
Gerhana rembulan hampir total, malam
gelap gulita. Matahari berada pada satu garis dengan bumi dan rembulan. Cahaya
matahari yang memancar ke rembulan, tidak sampai kepermukaan rembulan karena
ditutupi oleh bumi. Sehingga bulan tidak bisa memantulkan cahaya matahari ke
permukaan bumi. Matahari adalah lambang Tuhan, cahaya matahari adalah rahmat
nilai kepada bumi, yang semestinya dipantulkan oleh rembulan.
Rembulan adalah para kekasih Allah,
para rasul, para nabi, para ulama, para cerdik-cendekia, para pujangga dan
siapapun saja yang memantulkan cahaya matahari atau nilai-nilai Allah untuk
mendayagunakannya di bumi. Karena bumi menutupi cahaya matahari maka malam
gelap gulita, dan di dalam kegelapan segala yang buruk terjadi. Orang tidak
bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas.
Orang menyangka kepala adalah kaki,
orang menyangka utara adalah selatan. Orang bertabrakan satu sama lain. Orang
tidak sengaja menjegal satu sama lain atau bahkan sengaja saling menjegal satu
sama lain. Di dalam kegelapan orang tidak punya pedoman yang jelas untuk
melangkah akan kemana melangkah dan bagaimana melangkah.
Ilir-ilir,
kita memang sudah ‘ngelilir’, kita sudah
bangun, sudah bangkit, bahkan kaki kita sudah berlari kesana kemari, namun akal
pikiran kita belum, hati nurani kita belum! Kita masih merupakan anak-anak dari
orde yang kita kutuk di mulut, namun ajaran-ajarannya kita biarkan hidup subur di
dalam aliran darah dan jiwa kita. Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya
untuk kita rampok balik. Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian kenapa
bukan kita yang maling.
Kita mencaci penguasa lalim dengan berjuang
keras untuk bisa menggantikannya. Kita membenci para pembuat dosa besar dengan
cara syetan, yakni melarangnya untuk insyaf dan bertobat. Kita memperjuangkan
gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur. Kita menolak pemusnahan dengan merancang
pemusnahan-pemusnahan. Kita menghujat para penindas dengan riang gembira, sebagaimana iblis yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri.
Siapakah selain setan, iblis dan
dajjal yang menolak khusnul khotimah manusia, yang memblokade pintu surga, yang
menyorong mereka mendekat ke pintu neraka. Sesudah ditindas kita menyiapkan
diri untuk menindas. Sesudah diperbudak kita siaga untuk ganti memperbudak.
Sesudah diancurkan kita susun barisan untuk menghancurkan.
Yang kita bangkitkan bukan pembaruan-kebersamaan,
melainkan asyiknya perpecahan. Yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan tapi
menggelegaknya kecurigaan. Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan,
melainkan parasangka dan fitnah. Yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka,
melainkan rencana-rencana panjang untuk menyelenggarakan perang saudara. Yang
kita kembang suburkan adalah kebiasaan memakan bangkai saudara-saudara kita
sendiri.
Kita tidak memperluas cakrawala
dengan menabur cinta, melainkan mempersempit dunia kita sendiri, dengan
lubang-lubang kebencian dan iri hati. Pilihanku dan pilihanmu adalah, apakah
kita akan menjadi bumi yang mempergelap cahaya matahari. Sehingga bumi kita
sendiri tidak akan mendapatkan cahayanya. Atau kita berfungsi menjadi rembulan,
kita sorong diri kita bergeser ke alam yang lebih tepat, agar kita bisa dapatkan
sinar matahari dan kita pantulkan nilai-nilai Tuhan itu kembali, ke bumi.
~Cak Nun
Disempurnakan dari catatan: http://ributadhiwahyudi.blogspot.com/2012/01/renungan-ilir-ilir-oleh-cak-nun.html

