"https://api.twitter.com/1/statuses/user_timeline/AndyNowiya.json?callback=twitterCallback2&count=1" "https://api.twitter.com/1/statuses/user_timeline.json?screen_name=AndyNowiya.json?callback=twitterCallback2&count=5"

Renungan Nusantara 3: Menyorong 'Rembulan'

Cak Nun di peringatan 1 abad HB-IX (dok @poetrafoto)
Gerhana rembulan hampir total, malam gelap gulita. Matahari berada pada satu garis dengan bumi dan rembulan. Cahaya matahari yang memancar ke rembulan, tidak sampai kepermukaan rembulan karena ditutupi oleh bumi. Sehingga bulan tidak bisa memantulkan cahaya matahari ke permukaan bumi. Matahari adalah lambang Tuhan, cahaya matahari adalah rahmat nilai kepada bumi, yang semestinya dipantulkan oleh rembulan.
Rembulan adalah para kekasih Allah, para rasul, para nabi, para ulama, para cerdik-cendekia, para pujangga dan siapapun saja yang memantulkan cahaya matahari atau nilai-nilai Allah untuk mendayagunakannya di bumi. Karena bumi menutupi cahaya matahari maka malam gelap gulita, dan di dalam kegelapan segala yang buruk terjadi. Orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas.
Orang menyangka kepala adalah kaki, orang menyangka utara adalah selatan. Orang bertabrakan satu sama lain. Orang tidak sengaja menjegal satu sama lain atau bahkan sengaja saling menjegal satu sama lain. Di dalam kegelapan orang tidak punya pedoman yang jelas untuk melangkah akan kemana melangkah dan bagaimana melangkah.
Ilir-ilir, kita memang sudah ‘ngelilir’, kita sudah bangun, sudah bangkit, bahkan kaki kita sudah berlari kesana kemari, namun akal pikiran kita belum, hati nurani kita belum! Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut, namun ajaran-ajarannya kita biarkan hidup subur di dalam aliran darah dan jiwa kita. Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik. Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian kenapa bukan kita yang maling.
Kita mencaci penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya. Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara syetan, yakni melarangnya untuk insyaf dan bertobat. Kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur. Kita menolak pemusnahan dengan merancang pemusnahan-pemusnahan. Kita menghujat para penindas dengan riang gembira, sebagaimana iblis yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri.
Siapakah selain setan, iblis dan dajjal yang menolak khusnul khotimah manusia, yang memblokade pintu surga, yang menyorong mereka mendekat ke pintu neraka. Sesudah ditindas kita menyiapkan diri untuk menindas. Sesudah diperbudak kita siaga untuk ganti memperbudak. Sesudah diancurkan kita susun barisan untuk menghancurkan.
Yang kita bangkitkan bukan pembaruan-kebersamaan, melainkan asyiknya perpecahan. Yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan tapi menggelegaknya kecurigaan. Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan, melainkan parasangka dan fitnah. Yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka, melainkan rencana-rencana panjang untuk menyelenggarakan perang saudara. Yang kita kembang suburkan adalah kebiasaan memakan bangkai saudara-saudara kita sendiri.
Kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta, melainkan mempersempit dunia kita sendiri, dengan lubang-lubang kebencian dan iri hati. Pilihanku dan pilihanmu adalah, apakah kita akan menjadi bumi yang mempergelap cahaya matahari. Sehingga bumi kita sendiri tidak akan mendapatkan cahayanya. Atau kita berfungsi menjadi rembulan, kita sorong diri kita bergeser ke alam yang lebih tepat, agar kita bisa dapatkan sinar matahari dan kita pantulkan nilai-nilai Tuhan itu kembali, ke bumi.
~Cak Nun

Renungan Nusantara 2: 'Ilir-Ilir' Kanjeng Sunan Ampel

Kyai Kanjeng + Cak Nun 
"Dhodot iro dhodot iro kumitir bedah ing pinggir, pakaian kebangsaan kita, harga diri nasionalisme kita, telah sobek-sobek oleh tradisi penindasan, oleh tradisi kebodohan, oleh tradisi keserakahan yang tidak habis-habis. “Dondom-ono, jlumat-ono kanggo sebo mengko sore,” harus kita jahit kembali, harus kita benahi lagi, harus kita utuhkan kembali, agar supaya kita siap untuk menghadap ke masa depan. 
Memang kita sudah lir-ilir, sudah ngelilir sudah terbangun dari tidur, sudah bangun. Sudah bangkit sesudah tidur terlalu nyenyak selama 30 tahun atau mungkin lebih lama dari itu. Kita memang sudah bangkit, beribu-ribu kaum muda berjuta-juta rakyat sudah bangkit keluar rumah dan memenuhi jalanan. Membanjiri sejarah dengan semangat menguak kemerdekaan yang telalu lama diidamkan. Akan tetapi mungkin karena terlalu lama kita tidak merdeka, sekarang kita tidak begitu mengerti bagaimana mengerjakan kemerdekaan. Sehingga tidak paham beda antara demokasi dengan anarki.
Terlalu lama kita tidak boleh berpikir lantas sekarang hasil pikiran kita keliru-keliru sehingga tak sanggup membedakan mana asap mana api, mana emas mana loyang, mana nasi dan mana tinja! Terlalu lama kita hidup didalam ketidak menentuan nilai. Lantas sekarang semakin kabur pandangan kita, atas nilai-nilai yang berlaku dalam diri kita sendiri. Sehingga yang kita jadikan pedoman kebenaran hanyalah kemauan kita sendiri, nafsu kita sendiri, kepentingan kita sendiri.
Terlalu lama kita hidup dalam kegelapan, sehingga kita tidak mengerti bagaimana melayani cahaya, sehingga kita tidak becus mengurusi bagaimana cahaya terang. Sehingga  dalam kegelapan gerhana rembulan, yang membikin kita buntu sekarang. Kita junjung-junjung pengkhianat dan kita buang para pahlawan. Kita bela kelicikan dan kita curigai ketulusan.
~Cak Nun

(bersambung ke renungan 3)


Renungan Nusantara 1: 'Ilir-Ilir' Sunan Ampel

Kyai Kanjeng & Cak Nun
Bisakah luka yang teramat dalam ini nantinya akan sembuh. Bisakah kekecewan dan keputusasaan yang mengiris-iris hati, berpuluh-puluh juta saudara kita ini pada akhirnya nanti akan kikis. Adakah kemungkinan kita merangkak naik kebumi, dari jurang yang teramat curam dan dalam. Akankah api akan berkobar-kobar lagi, apakah asap akan membumbung tinggi dan memenuhi angkasa tanah air. Akankah kita akan bertabrakan lagi jarah menjarah dengan pengorbanan yang tak terkirakan.
Adakah kita tahu apa yang sebenarnya sedang kita jalani. Bersediakah sebenarnya kita untuk tau persis apa yang sesungguhnya kita cari. Cakrawala manakah yang menjadi tujuan sebenarnya langkah-langkah kita. Pernahkah kita bertanya bagaimana cara melangkah yang benar. Pernakah kita mencoba menyesali hal-hal yang barangkali, perlu kita sesali, dari prilaku-prilaku kita yang kemarin. Bisakah kita menumbuhkan kerendah hatian dibalik kebanggaan-kebanggaan.
Masih tersediakah ruang di dalam dada kita dan akal kepala kita, untuk sesekali berkata pada diri kita sendiri bahwa yang bersalah bukan hanya mereka. Bahwa yang melakukan dosa bukan ia tetapi juga kita. Masih tersediakah peluang didalam kerendahan hati kita, untuk mencari apapun saja yang kira-kira kita perlukan, meskipun barang kali menyakitkan diri kita sendiri. Mencari hal-hal yang benar-benar kita butuhkan supaya sakit, sakit, sakit kita ini benar benar sembuh total.
 Sekurang-kurangnya dengan perasaan santai kepada diri kita sendiri, untuk menyadari dengan sportif. Bahwa yang mesti disembuhkan bukanlah yang berada diluar tubuh kita, tetapi didalam diri kita. Yang perlu utama kita lakukan adalah penyembuhan diri. Yang kita yakini harus betul-betul disembuhkan, justru adalah segala sesuatu yang berlaku didalam hati dan akal pikiran kita. Saya ingin mengajak engkau semua memasuki dunia Lir Ilir. 
"Lir ilir… Lir ilir… Tandure wus sumilir tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar."
Kanjeng Sunan Ampel seakan-akan baru hari ini, bertutur kepada kita, tentang kita. Tentang segala sesuatu yang kita mengalaminya sendiri, namun tidak kunjung sanggup kita mengerti. Sejak lima abad silam syair itu telah Ia lantunkan, dan tak ada jaminan bahwa sekarang kita sudah paham. Padahal kata-kata beliau mengeja kehidupan kita ini sendiri. Alfa, beta, alif, ba’, ta’, kebingungan sejarah kita dari hari-kehari. Sejarah tentang sebuah negeri yang puncak kerusakannya, terletak pada ketidak sanggupan para penghuninya.
Untuk mengakui betapa kerusakan itu sudah sedemikian tidak terperih. “Menggeliatlah dari matimu!” tutur sang Sunan. Siumanlah dari pingsan berpuluh-puluh tahun, bangkitlah dari nyenyak tidurmu. Sungguh negeri ini adalah penggalan Surga! Surga seakan-akan pernah bocor mencipratkan kekayaan dan keindahannya. Dan cipratan keindahan itu bernama Indonesia Raya! Kau bisa tanam benih kesejahteraan apa saja, diatas kesuburan tanahnya yang tidak terkirakan. Ditengah hijau bumi kepulauan yang bergandeng-gandeng mesra.
Tapi kita memang telah tidak mensyukuri, rahmat sepenggal surga ini. Kita telah memboroskan anugerah Tuhan ini dengan bercocok tanam ketidakadilan, dan panen-panen kerakusan. 
“Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi. Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dhodot iro.” 
Kanjeng Sunan tidak memilih figur misalnya “Pak Jendral… Pak Jendral…”. Juga bukan intelektual, ulama-ulama, seniman, sastrawan atau apapun, tetapi cah angon.
Beliau juga menuturkan “penekno blimbing kuwi,” bukan “Penekno pelem kuwi.”. Bukan “penekno sawo kuwi”, bukan penekno buah yang lain, tapi belimbing, bergigir lima. Terserah apa tafsirmu tentang lima, yang jelas harus ada yang memanjat pohon yang licin itu. “lunyu-lunyu penekno” agar belimbing bisa kita capai bersama. Dan yang harus memanjat adalah cah angon, anak gembala. Tentu saja dia boleh seorang doktor, kyai, ulama, seniman, sastrawan atau siapapun.
Namun dia harus memiliki daya angon, daya menggembalakan. Kesanggupan untuk ngemong semua pihak. Karakter untuk merangkul dan memesrai siapa saja sesama saudara sebangsa. Determinasi yang menciptakan garis besutan kedamaian bersama. Pemancar kasih sayang yang dibutuhkan dan diterima semua warna, semua golongan, semua kecendrungan. Bocah angon adalah pemimpin nasional, bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan.
Selicin apapun pohon-pohon tinggi reformasi ini, sang bocah angon harus memanjat sampai selamat memperoleh buahnya. Bukan ditebang, dirobohkan, atau diperebutkan. Dan air sari pati belimbing gigir lima itu, diperlukan bangsa ini untuk mencuci pakaian nasionalnya. Pakaian adalah akhlak, pakaian adalah yang menjadikan manusia bukan binatang. Kalau engkau tidak percaya, berdirilah di depan pasar. Dan copotlah pakaianmu maka engkau kehilangan harkatmu sebagai manusia.
Pakaianlah yang membuat manusia bernama manusia. Pakaian adalah pegangan nilai, landasan moral, dan sistem nilai. Sistem nilai itulah yang harus kita cuci dengan pedoman lima!
"Dhodot iro dhodot iro kumitir bedah ing pinggir, dondom-ono jlumat ono-kanggo sebo mengko soreMumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane yo surako surak iyo."
Satu tembang tidak selesai ditafsirkan dengan seribu jilid buku. Satu lantunan syair tidak selesai ditafsirkan dengan waktu seribu bulan dan seribu orang melakukannya. Aku ingin mengajakmu untuk berkeliling utuk memandang warna-warni yang bermacam-macam dengan membiarkan mereka dengan warnanya masing-masing. Agar kita mengerti dengan hati dan ketulusan kita. Apa muatan kalbu mereka mengenai lir-ilir, mengenai ijo royo-royo, mengenai temanten anyar, mengenai bocah angon dan belimbing, mengenai mbasuh dodot iro dan mengenai kumitir bedah ing pinggir.
Yang akan kita bicarakan tentu saja kapan saja bersama-sama. Tapi aku ingin mengajakmu untuk mendengarkan siapa saja diantara sauara-saudara kita tanpa perlu kita larang-larang untuk menjadi ini atau untuk menjadi itu. Asalkan kita bersepakat bahwa bersama-sama mereka semua kita akan menyumbangkan yang terbaik bagi semuanya. Bukan hanya bagi ini, atau itu, bukan hanya bagi yang disini atau yang disana.
~Cak Nun

(bersambung ke renungan 2)

Tembang 'Tombo Ati': Kyai Kanjeng & Cak Nun


Kyai kanjeng + Cak Nun
Kepada engkau yang menyimpan kesengsaraan dalam kebisuan.
Kepada engkau yang menangis dalam batin karena dikalahkan, karena disingkirkan, diusir, ditinggalkan.
Atau karena sangat-sangat susah ketemu dengan yang namanya keadilan.
Aku ingin bertamu di lubuk hatimu sodara-sodara.
Untuk mengajakmu istirahat sejenak.
Mengendapkan hati dan bernyanyi, mengendapkan hati dan bernyanyi.

Saudara-saudaraku sesama orang kecil dipinggir jalan.
Sedulur-sedulurku di dusun-dusun, di kampung-kampung perkotaan.
Karib-karibku di gang-gang kotor, gubuk-gubuk tepi sungai yang darurat.
Atau mungkin saudara-saudaraku di rumah-rumah besar, di kantor-kantor mewah.
Namun memendam semacam keperihan diam-diam.

Aku ajak engkau semua sahabat-sahabatku, saudara-saudaraku.
Untuk menarik nafas sejenak.
Duduk bersandar,  atau membaringkan badan.
Kuajak engkau menjernihkan pikiran.

Untuk menata hati.
Menemukan kesalahan-kesalahan kita semua untuk tidak kita ulangi lagi.
Atau meneguhkan kebenaran-kebenaran untuk kita perjuangkan kembali.
Ayolah saudara-saudara. Rileks…

Ilaahi lastu lilfirdausi ahla, walaa aqwa 'alannaril jahiimi..
Tombo ati.. Iku ana limang perkara..
Kaping pisan.. Maca Qur'an sak maknane..
Kaping pindo.. Shalat wengi lakonana..
Kaping telu.. Wong kang sholeh kumpulana..
Kaping papat.. Weteng ira ingkang luwe..
Kaping lima.. Dzikir wengi ingkang suwe..
Salah sawijine.. Sapa bisa ngelakoni..
Insya Allah.. Gusti Pengeran ngijabahi...

*(Artinya:
Wahai Tuhan kutak layak kesurgamu, namun tak pula aku sanggup ke nerakamu..
Obat hati, Itu ada lima perkara..
Yang pertama, baca Qur'an dan maknanya..
Yang kedua, shalat malam dirikanlah..
Yang ketiga, berkumpullah dengan orang soleh..
Yang keempat, kuatkanlah menahan lapar..
Yang kelima, zikir malam perbanyaklah..
Salah satunya, siapa bisa menjalani..
Insya Allah Yang Mahakuasa Mengkabulkan (do’a)..

> Repos dengan penambahan. (red)

Hijrah Perbuatan, Pergaulan dan Perantauan

Senja di cakrawala
“Selamat tahun baru Islam mas.” sapa salah seorang bapak mekanik di lapangan. Sambil nyodorkan tangan dan mengulum senyum, ngajak salaman. Salam bahagia dari seorang pekerja keras yang nggak dapet jatah hari libur kayak pekerja kantoran. Namun beliau nampak tetap sumringah menikmati permulaan Hijriah, tahun baru Islam. Momentum hijrahnya Nabi Muhammad, pemimpin pergerakan umat manusia. Tahun mulia yang malah aku hampir nggak ingat, apalagi ngucapkan salam bahagia seperti bapak tadi. 
Kebetulan kulirik salah satu kanal tivi, lagi tampil penceramah paruh baya yang populer sama gaya tawa khasnya. Mbawakan materi yang cocok sama momentum hari ini. “Hijrah dalam Islam ada tiga arti: hijrah perbuatan, hijrah pergaulan, dan hijrah berpindah.” begitu mulanya. Hijrah perbuatan misalnya buang jauh perilaku buruk yang jadi kebiasaan. Simpelnya, yang doyan maksiat mulai dikurangi sedikit-sedikit, tambah yang baik-baik, nanti bisa jadi bener.
Kalo hijrah pergaulan contoh populernya, dekat-dekat sama tukang las pasti bajunya bolong-bolong, kalau dekat penjual wangi-wangian pasti kena wanginya. Mudahnya, tambah rekan-rekan berperilaku baik dan perkuat silaturahminya. Tapi tidak juga tinggalkan temen yang belum bisa sama baiknya, karena bisa jadi nanti akan jauh lebih baik lagi. Tergantung yang mbikin hati, mau mbalik hati mahluknya kapan, umur berapa, dimana tempatnya, itu urusan Penciptanya.
 Lha kalau hijrah berpindah ini, silahkan diartikan sendiri sesuai selera dan pendapat masing-masing. Anak lulus sekolah dasar pengen nyantri, bisa dikatakan hijrah. Lulus sekolah di desa mau kuliah di kota disebut hijrah juga boleh. Bosan tinggal dikota, pengen berpetualang  dari kampung ke kampung berniat “sosial-spiritual” ya monggo. Nyoba tantangan merantau ngangsu kawaruh ke daerah berbeda suku dan budaya juga nggak ada salahnya. Bisa-bisa saja.
Sekedar mengingatkan sabda Kanjeng Nabi seputar niat dan Hijrah, “Sesungguhnya setiap perbuatan bergantung pada niatnya. Orang yang berhijrah diniatkan karena Allah dan Rasulnya, maka hijrahnya dapat Allah dan Rasulnya. Dan siapa saja yang berhijrah karena ingin menguasai dunia, atau karena wanita yang ingin dinikahinya. Maka hijrahnya hanya dapat yang dia inginkan.” Cocok untuk diresapi agar “nawaitu” nya tidak keliru. Sekedar nasehat pribadi.
Guru spiritual dikampus pernah berpesan, “Dekat-dekatlah dengan Allah. Namun jika masih dalam proses pembelajaran, dekat-dekatlah dengan orang yang sudah dekat dengan Allah.” Dimanapun dan kapanpun berada, pasti ada kesempatan mendekatkan diri pada sang Pencipta. Kalau kesempatan itu belum datang, bisa dengan berkawan dengan orang-orang yang dipercayai perbuatannya baik dan bisa ditiru. Bisa guru, teman, atasan, atau mungkin bawahan.
Intinya, momen tahun baru hijriah begini tidak dilewatkan begitu saja. Bisa juga dijadikan momentum “hijrah” pada diri sendiri, dimulai dari hal yang paling mudah, dari hal-hal kecil, dan mulai dari sekarang. Biasanya proses menuju perbaikan diri lebih mudah terwujud, ketika bertemu momentumnya. Dengarkan nasehat orang tua, simak petuah sesepuh di perkumpulan atau komunitas, atau renungkan bersama rekan-rekan senasib seperantauan. J


Sepuluh Jari, Sepasang Mata-Telinga dan Satu Mulut

“Kalau ada di wilayah orang, bicara seperlunya saja, biar kita selamat” ini nasihat bijak dari pak Radang, bukan mubalig ataupun Kyai, tapi seorang mekanik struktur baja. Bapak paruh baya asal Pangkep Makassar ini ahli dibidang fitter alias tukang presisi. Tapi solatnya bukan main rajinnya, dan sering mengingatkanku untuk solat setelah bekerja. Nasihat ini pasti tidak asing di telinga anda semua, mungkin dengan redaksi yang sedikit berbeda, tapi maksud dan intinya sama.
Ketika bercermin, coba lihat baik-baik organ "vital" di wajah kita, mulut, mata, dan telinga. Mengapa mulut diciptakan tidak sama banyak dengan mata dan telinga? Dan lihat dalam mulut ada lidah, bandingkan lidah yang lunak tidak bertulang dan tidak dilindungi, dengan mata yang dilindungi kelopak dan telinga yang bertulang lunak? Anda punya jawaban sendiri pastinya. Pengalamanku, dulu sering gunakan mulut daripada mata dan telinga. Hasilnya, jiwa terasa bodoh, susah menggunakan perasaan, juga pastinya banyak bencana, dan hasilnya nggak baik juga. Nggak pengen begitu kan?
Anugrah sepasang mata, telinga dan hanya satu mulut ini, tampaknya agar lebih banyak fungsikan yang sepasang, daripada yang cuma satu. Mari renungkan, dengan apa bayi yang baru lahir memahami suara ibu dan mengenal alam sekitarnya? Betul, dengan melihat dan mendengarnya, ini berlanjut sampai dia belajar menjadi dewasa. Pasti proses memahami hidup ini dengan mata dan telinganya.
Mata untuk belajar dari buku dan dari alam, telinga untuk mendengar segala sesuatu yang dibutuhkan otak dan hati. Bisa petunjuk, nasihat, perintah dan lain sebagainya. Intinya adalah proses pembelajaran ini lebih banyak dengan melihat dan mendengar, dari pada bicara. Karena logikanya otak menerima informasi dari mata dan telinga, sedangkan berbicara kan melepas informasi. Tapi nggak apa-apa juga kalau banyak bicara, banyak mendengar dan juga melihat. Bahkan ada profesi yang wajib banyak bicara. Nggak ada yang nyalahin kalo hati-hati.
Pertanyaan terakhir adalah mengapa jari tangan dan kaki yang jumlahnya sama-sama sepasang, tapi lima kali lipat dari pada mata dan telinga. Hayo kenapa… Pasti punya jawaban sendiri. Logika sederhananya kan setelah melihat dan mendengar masukan atau ilmu yang baik harus diaplikasikan, kalau perintah sesuai hati dan logika ya dikerjakan. Tangan mencatat, kaki melangkah, mulailah dikerjakan.
Kalau mata melihat dan telinga mendengar suatu peluang yang baik segera bertindak, tidak perlu banyak pikir-pikir, lakukan saja. Kalau salah masih bisa diperbaiki, kalau lama mikir, lama juga kerjanya. Nggak ada yang salah dengan sebuah proses yang gagal, justru yang takut atau tidak mau mengalami kegagalan itu yang salah. Ibarat bayi belajar berjalan, dia pasti jatuh bangun, tapi dia akan berani berdiri lagi dan tidak takut jatuh lagi.
Anak kecil yang sedang belajar sepeda pun begitu. Seorang pedagang sukses juga pasti mengalami masa sulit, gagal, ditipu, dan itu jadi vitamin penguat mental pengusaha. Sense of business nya, ya mengalami untung-rugi begitu. Nah, karna topiknya udah melebar kemana-mana, kembali ke renungan kenapa aku punya satu mulut, sepasang mata dan telinga, dan sepuluh pasang jari. Karena Allah, sang Mahaguru mengajarkan untuk banyak melihat, mendengar, dan bekerja. Bukan banyak bicara. 

Pepatah Jawa bilang “Ajining rogo ono ing busono, ajining diri ono ing lathi, ajining jiwo ono ing agomo”. Kurang lebih artinya: “Fisik seseorang dinilai dari penampilan, kepribadiannya dinilai dari bicaranya, dan jiwanya dinilai dari agama. Peribahasa dari Arab pun ada. “Man katsuro kalaamihi, katsuro malaamihi”, Siapa yang banyak bicaranya, banyak juga bencananya. Nasehat Kanjeng Nabi paling populer, “Man kaana yu’minu billahi walyaumil akhir, fal yaqul khoiron au liyasmut. Intinya bicara yang baik, atau diam saja! Ini hanya nasehat pribadi, sekedar “penawar” hati. J

Dakwah bil Hal: Korporatisasi Usaha Individual Umat Menuju Indonesia Maju

Oleh: Dahlan Iskan
ISTILAH "dakwah bil hal" yang sudah begitu populer ternyata merupakan istilah yang hanya digunakan di Indonesia, yang kemudian merembet ke Malaysia. Sebagaimana istilah "halal bil halal", istilah "dakwah bil hal" bukan istilah yang dikenal di dunia Islam di Timur Tengah.
Bahkan, istilah "dakwah bil hal" ternyata baru mulai populer sejak 1970-an. Berbagai sumber ulama dan intelektual Islam Indonesia membenarkan itu. Namun, tidak ada yang tahu siapa yang memulai menggunakannya. Prof Dr KH Quraisy Shihab, ahli tafsir Alquran yang semula dikira sebagai ulama pertama yang menggunakan istilah "dakwah bil hal", mengirim jawaban dari luar negeri sebagai berikut: bukan saya yang pertama memopulerkan istilah itu. Rasanya MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang memopulerkannya.
Prof Dr Amin Aziz yang zaman itu menjadi tokoh muda intelektual Islam yang mulai ikut berkecimpung di MUI juga tidak ingat persis siapa orang pertama yang melahirkan istilah "dakwah bil hal". Yang jelas, Ketua Umum MUI saat itu dijabat oleh Prof Dr KH Hasan Basri, semoga Allah SWT memberikan surga terbaik untuk almarhum.
Tapi, dari hasil penelusuran saya, patut diduga istilah "dakwah bil hal" itu terucapkan kali pertama oleh intelektual muda yang juga mulai aktif di MUI zaman itu. Namanya Dr Effendy Zarkasi. Setidaknya itulah yang diduga oleh tokoh yang juga sangat aktif dan terlibat dalam kegiatan pemberdayaan umat Adi Sasono.
Awal 1970-an adalah masa di mana gejolak politik di Indonesia luar biasa mencekamnya. Ini buntut dari peristiwa G-30-S pada 1965 yang menghadapkan golongan Islam dengan golongan komunis. Pada masa itu banyak pemikiran yang muncul untuk menyikapi akan dikemanakan masa komunis yang begitu besar yang pada umumnya rakyat miskin biasa.
Di pihak lain, pada awal Orde Baru, terutama menjelang pemilu model Orba yang ditandai dengan keharusan dimenangkannya Golkar, gerak para pendakwah dipersempit. Singa-singa podium mengalami hambatan untuk berorasi.
Maka, sebagai salah satu sikap moderat untuk keluar dari jepitan dua situasi itu, dicarilah istilah yang enak terdengar untuk kalangan penguasa, sekaligus konkret hasilnya bagi rakyat jelata. "Dakwah bil hal" diharapkan bisa menjawab pertanyaan mengapa begitu besar rakyat kita yang miskin yang akhirnya memilih partai komunis daripada menjadi pemeluk Islam yang baik. Tentu kenyataan itu dianggap sebagai bukti kegagalan misi dakwah Islam.
Sudah tentu, tercapai juga tujuan lain yang lebih taktis. Dengan lebih banyak mewacanakan dakwah bil hal, konotasi kata "dakwah" yang waktu itu terdengar identik dengan suara anti penguasa Orde Baru bisa lebih lunak diterima oleh telinga penguasa.
Maka, sudah pada tempatnya bila MUI mencari jalan yang lebih taktis. Sebagai lembaga yang "terjepit" di tengah-tengah antara ulama Islam dan penguasa, tidak ayal bila MUI harus mencari "jalan lain" yang lebih bisa diterima semua pihak. Seislam-islamnya MUI, waktu itu, adalah Islam yang bisa diterima penguasa. Sebaliknya, sedekat-dekatnya dengan penguasa, MUI masih merupakan representasi ulama Islam.
Posisi MUI di awal-awal Orde Baru memang memiliki tempat yang khusus di mata penguasa, karena, antara lain, untuk menjadi ketua MUI memang harus mendapat restu penguasa. Bahkan, tidak jarang MUI dituduh sebagai "alat penguasa".
Dalam hal ini bisa jadi istilah "dakwah bil hal" lahir sebagai penerapan satu prinsip ushul al fiqh ini: Maa laa yudraku kulluh laa yutraku kulluh, sesuatu yang tidak bisa dipakai semua jangan ditinggalkan semua.
Dalam suasana apa pun dan dalam kondisi apa pun dakwah harus tetap berjalan. Tidak bisa bil lisan, bisa bil kalam. Tidak bisa bil kalam, nah ini dia: bil hal.Dalam situasi di bawah penguasa Orde Baru yang tidak menginginkan Islam politik hidup kembali, istilah "dakwah bil hal" dianggap tidak berkait dengan politik dan tidak berhubungan dengan pemilu. Maka, MUI sangat sering membahas topik-topik dakwah yang tidak sensitif di telinga penguasa.
Dalam Muyawarah Nasional pada 1985 dan Rakernas 1987, MUI telah mengambil keputusan tentang program "dakwah bi al-hal". Salah satu rumusannya disebutkan bahwa tujuan "dakwah bi al-hal", antara lain,"untuk meningkatkan harkat dan martabat umat, terutama kaum duafa atau kaum berpenghasilan rendah.
Rumusan itu adalah jawaban dari topik yang menarik dan selalu dibicarakan waktu itu: mengapa dakwah sering menemui kegagalan. Salah satu jawaban yang muncul saat itu adalah ini: karena dakwah Islam lebih banyak hanya dilakukan secara pidato-pidato, ceramah-ceramah, pengajian-pengajian. Dakwah bil lisan. Kesimpulannya: perlu dicarikan terobosan baru agar dakwah tidak hanya mengandalkan "bil lisan". Lantas lahirlah istilah yang merupakan antitesisnya: bil hal. Dakwah bil hal. Dakwah dengan perbuatan dan hasil nyata.
Dakwah dalam Konteks Kekinian
Dalam literasi yang banyak berkembang di dunia Islam, istilah dakwah bil lisan dan dakwah bil hal tidak banyak dikenal. Menurut kiai muda lulusan Yaman dari Pondok Pesantren Al Azziziyah, Denanyar, Jombang, KH Abdul Muiz Aziz, di dunia Arab dan dunia Islam pada umumnya, dakwah bil lisan dikenal dengan ungkapan "bil maqal" dilaksanakan dalam bentuk harakah-harakah. Kebanyakan gerakan ini sebenarnya tidak bisa disebut murni dakwah karena tujuan akhirnya adalah untuk merebut kekuasaan.
Dalam tradisi Arab pun, dakwah bil maqal atau dakwah bil lisan dianggap kurang efektif dibanding dakwah dengan perbuatan yang diistilahkan bi lisan al hal. Ungkapan yang populer di dunia Arab, lisaanul hal afshahu min lisanil maqal. Berkata dengan perbuatan jauh lebih efektif dibanding berkata dengan ucapan."
Di Indonesia, gerakan dakwah bil hal bukanlah hal baru. Ketika mendirikan Muhammadiyah pada 1912, motivasi yang menjadi landasan KH Ahmad Dahlan adalah mengaplikasikan perintah Surat Al Maa"un untuk memberdayakan fakir miskin, yatim piatu, dan kaum duafa pada umumnya. Salah satu wujudnya, Muhammadiyah ketika itu mendirikan Bagian Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO). Lembaga ini kemudian berkembang seiring tuntutan zaman, dengan memperluas cakupan kegiatan di bidang pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.
Ketika KH Hasyim Asy"ari dan sejumlah ulama mendirikan Nadhlatul Ulama pada 1926, empat sendi pokok yang menjadi pilar jam"iyah adalah (1) pendidikan, keilmuan, sosial-budaya, (2) ekonomi kerakyatan, dan (3) kebangsaan. Untuk merealisasikan pilar-pilar tersebut ke dalam kehidupan bangsa Indonesia, dibentuklah lembaga dan lajnah, di antaranya Lembaga Pendidikan Ma"arif, Lembaga Sosial Mabarrot, dan Lembaga Pengembangan Pertanian.
Kepedulian serupa ada di organisasi Islam lainnya, seperti Al Irsyad, Persis, Nahdlatul Wathan di NTB, dan sebagainya. Buku Fiqhud Da"wah karya tokoh besar Dr Moh Natsir (almarhum) juga menguraikan soal ini (Hamdan Daulay, 2011). Komunitas seperti Qaryah Thayyibah di Salatiga, Tangan di Atas di Jakarta, dan Sedekah Rombongan di Jogjakarta, hakikatnya juga merupakan implementasi dakwah bil hal.
Di dunia Islam kontemporer, salah satu contoh dakwah bil hal yang dianggap paling berhasil berkembang di Turki. Di sana gerakan sejenis ini disebut Hizmet yang artinya pelayanan. Tokoh sentralnya adalah ulama tarekat yang meneruskan gerakan tarekat Sayid Nursi bernama Fethullah Gulen. Karena itu, Hizmet di Turki juga disebut Gulen Movement.
Gerakan ini menggaungkan Islam damai tidak saja di Turki, tetapi juga di dunia internasional. Gerakan ini telah mendirikan lebih dari 1.000 sekolah di lebih dari 100 negara di dunia; enam rumah sakit umum; beberapa media cetak dan elektronik; sebuah universitas; organisasi bantuan sosial internasional; organisasi dialog antaragama internasional; dan gerakan ini sudah memiliki cabang di berbagai negara di dunia, empat cabang di antaranya di Amerika.Gerakan ini mendapat dukungan tidak hanya dari kalangan elite, tapi dari umat di masyarakat bawah. Layanan sosial Gerakan Gulen menjangkau masyarakat kelas bawah secara luas, tanpa memandang latar belakang agama dan ras, merepresentasikan gagasan dan cita-cita Islam sebagai rahmatan lil alamin.
Yang menggembirakan adalah tidak terjadi dikotomi antara dakwah bil lisan dan dakwah bil hal. Tidak ada yang menentang kehadiran gerakan dakwah bil hal, karena dakwah bil hal tidak menafikan pentingnya dakwah bil lisan. Boleh dikata keduanya saling melengkapi.
Semua intelektual mengakui bahwa untuk zaman ini dakwah bil lisan saja tidak cukup. Tidak memadai. Kata-kata Prof Dr Komaruddin Hidayat, rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dalam penjelasannya melalui SMS kepada saya: dakwah bil hal menunjukkan bahwa Islam adalah agama amal, agama kerja, bukan sekadar agama kontemplasi dan pertapa.
Dari kalangan pondok pesantren juga sama. "Untuk zaman sekarang dakwah dengan sunnah fi"liyah lebih baik daripada sunnah qauliyah," tulis KH Abdul Muiz Aziz dari Denanyar.
Dakwah Tekstual dan Kontekstual
Ketika tantangan untuk meningkatkan mutu pendidikan lebih tinggi lagi, muncul gerakan baru dari individu-individu muslim nonlembaga keagamaan. Mereka mendirikan lembaga-lembaga pendidikan tanpa mengikatkan diri pada lembaga keagamaan yang sudah ada. Mereka lebih mengutamakan mutu daripada formalitas dan fanatisme keorganisasian. Muncullah sekolah-sekolah bermutu internasional dari individu-individu muslim. Tanpa membawa bendera organisasi agama, yang mereka anggap akan menambah birokrasi yang bisa menghambat usaha menjaga mutu yang harus selalu dinamis.
Mengapa dakwah bil hal pada masa kini lebih banyak bergerak di bidang pendidikan, tentu sesuai dengan tantangan yang dominan di kalangan ummat Islam saat itu: kebodohan, kejumudan, dan ketertinggalan dalam dunia pemikiran. Di samping, sudah tentu, pendidikan sendiri adalah aktivitas yang tidak dipisahkan dari doktrin keagamaan dalam Islam.
Berkembangannya dakwah bil hal di bidang pendidikan sekaligus menandai terjadinya transformasi peradaban. Dari peradaban lisan ke peradaban tulis. Perkembangan peradaban itu membawa konsekuensi pada kehidupan umat. Peradaban lisan di Indonesia bisa diidentikkan dengan peradaban pertanian. Peradaban tulis identik dengan zaman industri.
Belakangan muncul peradaban yang lebih baru lagi: video dan audio. Yang melambangkan peradaban informasi. Perubahan peradaban itu tidak hanya mengakibatkan berubahnya perilaku sosial umat, tapi lebih-lebih juga perilaku ekonomi. Kemajuan perekonomian pertanian terbukti dikalahkan oleh ekonomi industri. Dan, ekonomi industri dikalahkan oleh ekonomi informasi. Teknologi informasi berkembang luar biasa pesat, dan menjadi tulang punggung perekonomian modern.
Jika umat masih terus tertinggal di peradaban lisan dengan ciri ekonomi pertanian, mereka akan menjadi umat yang paling tertinggal. Kemajuan-kemajuan ekonomi yang digerakkan oleh peradaban industri dan informasi telah membawa perubahan besar, namun porsi manfaat yang lebih besar diambil oleh masyarakat industri dan masyarakat informasi.
Dari pengalaman selama ini, saya membagi dua tingkatan dakwah:
Dakwah Tekstual. Dakwah yang diberikan begitu saja oleh pendakwah. Tanpa tahu apakah materi itu yang sebenarnya dibutuhkan oleh sasaran dakwahnya. Tanpa tahu bahwa sasaran dakwahnya sebenarnya sudah tahu dan sudah berkali-kali mendengarkan hal yang sama. Dakwah yang tidak menyentuh realitas yang tengah dihadapi sasaran dakwah.
Dakwah Kontekstual. Dakwah untuk menjawab kebutuhan sasaran dakwah. Kebutuhan untuk keluar dari kebodohan melalui pendidikan. Kebutuhan keluar dari kemiskinan dengan ekonomi. Dan seterusnya. Dakwah bil hal ada di kategori ini.
Untuk lebih memberikan relevansi, dengan tuntutan zaman, dakwah kontekstual harus diperluas maknanya. Bukan hanya yang bisa menjawab kebutuhan saat ini, tapi sudah harus bisa menjawab masa depan. Masa depan tentu erat kaitannya dengan desain. Desain seperti apa yang diinginkan untuk diwujudkan dalam masyarakat Islam Indonesia masa depan.
Desain itu haruslah desain yang bisa mewujudkan cita-cita semua orang. Cita-cita yang sejak kecil diperdengarkan, namun tidak pernah dijelaskan dan tidak pernah ada penjelasan bagaimana road map untuk mencapainya. Yang pertama dalam konteks personal, adalah doa yang kita kumandangkan setiap hari, yang tertera di Surat Al Baqarah ayat 15: Rabbana aatina fi ad-dunya hasanah wa fi al-akhirati hasanah wa qina adzabannar. Ya, Tuhan kami, karuniakanlah untuk kami kebaikan hidup di dunia dan akhirat, dan selamatkanlah kami dari api neraka.
Dalam bermasyarakat dan berbangsa, cita-cita itu tertera di Surat Saba ayat 15: baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Negeri yang makmur yang penuh dengan pengampunan Tuhan. Indonesia yang adil makmur dengan roh ketuhanan.
Itulah cita-cita personal kita sebagai seorang manusia, dan cita-cita komunal kita sebagai bangsa.
Desain dan cita-cita sudah ditetapkan, tapi road map untuk mewujudkan desain itu belum pernah dirumuskan. Karena itu, para pendakwah juga belum bisa secara masif mendakwahkan desain masa depan itu.
Korporatisasi Usaha Individu
Kita punya problem mendasar untuk mayoritas umat Islam, terutama di pedesaan. Mungkin sangat sulit merumuskan desain masa depan tanpa mengubah struktur yang ada. Terutama struktur perekonomian mereka. Penguasaan aset perekonomian yang kecil dan bersifat individual akan menjadi faktor yang amat sulit untuk menciptakan desain besar, baik dalam konteks cita-cita personal maupun komunal.
Kepemilikan sawah oleh individu muslim yang kecil-kecil, pada akhirnya hanya akan jatuh ke para penyewa besar. Kepemilikan ternak yang hanya satu-dua ekor di masing-masing individu muslim, juga tidak akan bisa memberikan dampak besar bagi peningkatan kesejahteraan dan kualitas kehidupan secara umum.
Kita membutuhkan sebuah desain gerakan dakwah bil hal yang masif untuk menjawab permasalahan itu. Sebuah desain yang tidak hanya berorientasi kekinian, tapi juga menjangkau masa depan. Saya mengistilahkan desain itu: Korporatisasi Usaha Individu Umat.
Tujuan korporatisasi usaha individu umat sejalan dengan tujuan dakwah, sebagaimana rumusan dakwah dari Amrullah Ahmad (1985): eksistensi dakwah mengubah realitas sosial yang ada ke realitas sosial yang baru.
Ke depan umat harus yakin bahwa "usaha bersama" lebih baik daripada "usaha sendiri" yang kecil-kecil. Korporatisasi -tidak harus dalam pengertian membuat perusahaan, apalagi konglomerasi- akan mengubah desain ekonomi umat masa depan. Saya terkesan dengan rumusan dakwah dari Andi Abdul Muis (2001): dakwah jangan hanya terfokus pada masalah agama, tapi harus mampu menjawab realitas keadaan di pedesaan.
Realitasnya, umat di pedesaan terbelit pada kepemilikan aset produksi yang kecil, yang tidak akan bisa digerakkan sebagai kekuatan ekonomi. Korporatisasi Usaha Individual bisa menjadi jalan keluarnya. Hanya, dalam korporatisasi ini diperlukan pihak ketiga yang akan menjadi penjamin fasilitas pendanaan (avalis).
Adanya avalis menjawab persoalan yang selama ini menjadi kendala bagi pendanaan usaha kecil umat. Sebab, fasilitas pendanaan perbankan umum maupun perbankan syariah sangat besar untuk mendukung misi korporasitasi usaha individual umat ini. Yang belum cukup adalah siapa lembaga atau pihak yang menjadi penjaminnya. Avalis bisa menjadi jembatan bagi individu pengusaha kecil untuk menjangkau pendanaan perbankan.
Maka, sudah waktunya konsep zakat juga lebih akomodatif terhadap keperluan riil masa depan itu. Peranan zakat orang kaya yang 2,5 persen dari aset mungkin terlalu kecil dampaknya bagi pekerjaan sangat besar mengangkat perekonomian umat yang mayoritas miskin itu. Tapi, peranan orang kaya (aghniya") atau pemilik modal akan menjadi lebih berarti jika diposisikan dalam konteks membangun korporatisasi usaha individu umat itu.
Avalis bisa dilakukan dalam dua bentuk. Pertama, pemilik modal berada di luar, hanya bertindak sebagai penjamin atas jalannya usaha individu. Kedua, pemilik modal masuk ke dalam, menjadi bagian dari korporasi usaha individual itu.
Harus ada tempat bagi peran avalis dalam praktik ekonomi syariah. Sebab, konteks hukum fikihnya berbeda dengan sedekah atau infak. Penerima sedekah dan infak tidak memiliki ikatan apa pun dengan pemberi sedekah. Apalagi ikatan formal. Penerima sedekah dan infak bisa menggunakan dana untuk apa pun, termasuk untuk hal yang hanya bersifat konsumtif.
Sementara avalis dan pihak yang dijamin terikat dalam sebuah akad, baik moral maupun formal. Avalis memiliki tanggung jawab untuk turut mengembangkan usaha pihak yang dijamin. Sebab, tujuan proses ini bukan sebatas memberi jaminan, tapi bagaimana agar yang dijamin bisa berkembang dan "berubah dari realitas sosial yang ada ke realitas sosial yang baru".
Sebagai contoh, 100 orang miskin tidak mungkin bisa membeli sapi untuk diternakkan. Apalagi, dalam jumlah yang memenuhi skala keekonomian. Mereka juga tidak mungkin mendapat fasilitas pinjaman dari bank. Dengan niat dan tekad dakwah bil hal, seorang aghniya" bisa menjadi avalis bagi mereka, sehingga perbankan atau lembaga keuangan bisa mengucurkan dana untuk pembelian sapi bagi kelompok tersebut, dalam jumlah yang sesuai dengan skala keekonomian. Sapi-sapi itu ditempatkan dalam sebuah kandang komunal dengan prinsip-prinsip korporasi dalam pengelolaannya.
Tentu saja tidak bisa hanya berhenti pada pembelian sapi. Agar usaha berkembang sesuai tujuan yang dicanangkan, dakwah bil hal harus diperluas dalam bentuk pendampingan, pelatihan, pembinaan, sehingga benar-benar menjadi sebuah gerakan perubahan.
Bentuk lain adalah optimalisasi lahan-lahan kecil dan terbatas milik petani. Misalnya, dengan membentuk kelompok tani yang menanam buah-buahan tropik. Pasar buah tropik di dalam negeri sangat besar, dan memiliki potensi untuk diekspor ke mancanegara. Pengelolaannya bertumpu pada asas korporasi, sehingga lebih tertata, terukur, dan bisa dipertanggungjawabkan.
Indonesia yang menurut lembaga-lembaga internasional akan menjadi negara terbesar ke-7 di dunia pada 2030, tentu akan menjadi negara yang sangat maju dan modern. Di sini diperlukan modernisasi di bidang pertanian, peternakan, dan sektor-sektor pedesaan lainnya. Kalau tidak, di tengah-tengah kemajuan dan kemodernan Indonesia saat itu nanti terdapat mayoritas masyarakat Indonesia di pedesaan yang tetap tertinggal.
Korporatisasi usaha individual di mayoritas penduduk pedesaan kita adalah jalan untuk menuju Indonesia yang maju dan modern secara seimbang. Tanpa korporatiasi usaha individual di pedasaan, jalan untuk menuju masyarakat maju dan modern itu akan terhambat secara mendasar di pedesaan.
Korporatisasi usaha individu sebagai implementasi dakwah bil hal bisa diterapkan di bidang usaha apa saja, sesuai dengan potensi yang ada di sebuah desa. Inilah ladang baru bagi para aghniya", yang lebih menjamin amal mereka memberi manfaat dan dampak yang besar, bukan hanya di masa kini, tapi juga masa depan.
Yang bisa bertindak sebagai avalis tidak hanya sebatas individu, tapi bisa juga korporasi. Badan usaha milik negara (BUMN) adalah korporasi yang didesain tidak semata mengejar keuntungan, tetapi juga mengembangkan berbagai upaya untuk mendukung percepatan terwujudnya kesejahteraan rakyat.
Melalui program-program khusus yang relevan, BUMN akan menjadi perintis pengembangan korporatisasi usaha individu ini. Rintisan itu diharapkan menjadi stimulus bagi berbagai pihak, baik individu maupun lembaga dan korporasi, untuk mengembangkan hal yang sama, sehingga menjadi sebuah gerakan dakwah bil hal dalam skala yang luas.
Harus diingat, korporasi memiliki tanggung jawab sosial dan lingkungan. Dalam konteks ushul al fiqh, kepedulian itu merupakan penjabaran kaidahdar"ul mafasidi muqaddamun "ala jalbil mashalih: mencegah kerusakan harus didahulukan dibanding memperoleh kemanfaatan. Jika sebuah korporasi hidup di tengah lingkungan yang miskin, terbelakang, dan tertinggal, kelangsungan bisnisnya akan menghadapi banyak gangguan dan hambatan. Oleh sebab itu, perusahaan harus menunjukkan kepedulian untuk mencegah kerusakan pada masyarakat dan lingkungan di sekitarnya, sehingga bisa memperoleh manfaat dari sustainabilitas bisnis yang terjaga. 
Itulah jenis dakwah bil hal yang berdimensi masa depan.
Jangan hanya memberi ikan.
Berilah kail.
Jangan hanya memberi kail.
Berilah juga kolam.
Jangan hanya memberi kail dan kolam.
Ajaklah ke kolam untuk bersama memancing ikan.
Korporatisasi usaha individu akan membuat seseorang bisa membuat kolam, membuat kail, memancing bersama, dan akhirnya mendapat ikannya.
---------------------
*) Disertai permintaan maaf kepada berbagai perguruan tinggi yang di masa lalu menawarkan gelar Doktor HC kepada saya, tetapi saya waktu itu tidak bersedia memenuhinya.
= = = = = = = = = = = = =
Disampaikan pada Pidato Ilmiah Penerimaan Gelar Doktor Honoris Causa Bidang Ilmu Komunikasi dan Penyiaran Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo, Semarang, 8 Juli 2013

50 Kata Mutiara Arab (Mahfudzat)

1. Man sara ‘ala ad-darbi washala
(Siapa berjalan pada jalan-NYA, dia akan sampai)

2. Man jadda wajada
(Siapa bersungguh-sungguh , dia akan berhasil)

3. Man shobaro zhofira
(Siapa bersabar, dia akan beruntung)

4. Man qalla shidquhu qalla shodiquhu
(Siapa yang sedikit kejujurannya, sedikit pula temannya)

5. Jalis ahla ash-shidqi wa al-wafa’i
(Pergaulilah orang jujur dan menepati janji)

6. Mawaddatu ash-shodiqi tadzharu waqta adh-dhiqi
(Kecintaan seorang teman itu akan terlihat pada saat kesulitan)

7. Wama al-lladzdzatu illa ba’da at-ta’abi
(Tidak ada kenikmatan kecuali setelah bersusah payah)

8. Ash-shobru yu’inu ‘ala kulli ‘amalin
(Kesabaran itu membantu segala pekerjaan)

9. Jarrib walahidz takun ‘arifan
(Coba dan perhatikan, niscaya engkau akan paham)

10. Uthlubu al-’ilma min al-mahdi ila al-llahdi
(Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang kubur)

11. Baidhatu al-yaumi khairun min dajajati al-ghodd
(Telur hari ini lebih baik dari ayam hari esok)

12. Al-waqtu atsmanu mina adz-dzahabi
(Waktu itu lebih berharga daripada emas)

13. Al-’aqlu as-salimu fi al-jismi as-salimi
(Akal yang sehat terdapat pada badan yang sehat)

14. Khoiru jalisin fi az-zamani kitabun
(Sebaik-baik teman duduk di setiap waktu adalah buku)

15. Man yazra’ yahshud
(Siapa yang menanam, dia akan memetik/memanen)

16. Khoiru al-ashabi man yadulluka ‘ala al-khoiri
(Sebaik-baik teman adalah yang menunjukkanmu pada kebaikan)

17. Laula al-’ilma lakana an-nasu ka al-baha’imi
(Seandainya tiada berilmu, manusia itu seperti binatang)

18. Al-’ilmu fi as-shighori ka an-naqsyi ‘ala al-hajari
(Ilmu pengetahuan di waktu kecil itu bagaikan ukiran di atas batu)

19. Lan tarji’a al-ayyamu al-lati madhot
(Tidak akan kembali hari-hari yang lalu)

20. Ta’allaman shoghiran wa’mal bihi kabiron
(Belajarlah di waktu kecil dan amalkanlah di waktu besar)

21. Al-’ilmu bila ‘amalin ka asy-syajari bila tsamarin
(Ilmu tiada amalan bagaikan pohon tidak berbuah)

22. Al-ittihadu asasu an-najahi
(Persatuan adalah pangkal keberhasilan)

23. La tahtaqir miskinan wa kun lahu mu’inan
(Jangan engkau menghina orang miskin bahkan jadilah penolong baginya)

24. Asy-syarofu bi al-adabi la bi an-nasabi
(Kemuliaan itu dengan adab kesopanan , bukan dengan keturunan)

25. Salamatu al-insani fu’ hifdzi al-lisani
(Keselamatan manusia itu dalam menjaga lisannya)

26. Adabu al-mar’i khorun min dzahabihi
(Adab seseorang itu lebih berharga daripada emasnya)

27. Su’u al-khuluqi yu’di
(Kerusakan budi pekerti/akhlak itu menular)

28. Afatu al-’ilmi an-nisyan
(Bencana ilmu itu adalah lupa)

29. Idza shodaqa al-’azmu wadhoha as-sabilu
(Jika benar kemauannya niscaya terbukalah jalannya)

30. La tahtaqir man dunaka fa likulli syai’in maziyyatun
(Jangan menghina orang yang lebih rendah daripadamu karena setiap orang mempunyai kelebihan)

31. Ashlih nafsaka yashluh laka an-nasu
(Perbaikilah dirimu sendiri niscaya orang lain akan baik padamu)

32. Fakkir qobla an’ta’zima
(Berpikirlah dahulu sebelum kamu merencanakan/berkemauan)

33. Man ‘arafa buida as-safari ista’adda
(Siapa yang tahu jauhnya perjalanan, dia akan bersiap-siap)

34. Man hafaro khufrotan waqo’a fiha
(Siapa yang menggali lubang, dia yang akan terperosok ke dalamnya)

35. ‘Aduwwun ‘aqilun khoirun min shodiqin jahilin
(Musuh yang pandai lebih baik daripada teman yang bodoh)

36. Man katsuro ihsanuhu katsuro ikhwanuhu
(Siapa yang banyak perbuatan baiknya, banyak pulalah temannya)

37. Ijhad wala taksal wala taku ghofilan fanadamatu al-’uqba liman yatakassal
(Bersungguh-sungguhlah dan jangan bermalas-malasan dan jangan pula lengah karena penyesalan akibat itu bagi orang yang bermalas-malasan)

38. La tu’akhkhir ‘amalaka ila al-ghoddi ma taqdiru an ta’malahu al-yauma
(Janganlah mengakhirkan pekerjaanmu hingga esok hari yang kamu bisa mengerjakannya hari ini)

39. Utruk asy-syarro yatrukka
(Tinggalkanlah perbuatan jelek niscaya dia akan meninggalkanmu)

40. Khoiru an-nasi ahsanuhum khuluqan wa anfa’uhum linnas
(Sebaik-baik manusia itu adalah yang lebih baik budi pekertinya dan yang lebih bermanfaat bagi manusia)

41. Fi at-ta’anni as-salamatu wa fi al-’ajalati an-nadamatu
(Di dalam kehati-hatian adanya keselamatan, dan di dalam ketergesaan adanya penyesalan)

42. Tsamrotu at-tafriti an-nadamatu wa tsamrotu al-hazmi as-salamatu
(Buah sembrono atau lengah itu penyesalan dan buah cermat itu adalah keselamatan)

43. Ar-rifqu bi adh-dho’ifi -min khuluqi asy-syarifi
(Berlemah-lembut kepada orang yang lemah itu adalah suatu perangai orang yang mulia)

44. Fajaza’u as-sayyiatin sayyiatun mitsluha
(Maka pahala/imbalan suatu kejahatan itu adalah kejahatan yang sama)

45. Tarku al-jawabi ‘ala al-jahili jawabun
(Tidak menjawab terhadap orang yang bodoh itu adalah jawabannya)

46. Man ‘adzuba lisannuhu katsuro ikhwanuhu
(Siapa yang manis tutur katanya, banyaklah temannya)

47. Idza tamma al-’aqlu qolla al-kalamu
(Apabila akal seseorang telah sempurna maka sedikitlah bicaranya)

48. Man tholaba akhon bila ‘aibin baqiya bila akhin
(Siapa yang mencari teman yang tidak bercela maka dia tidak akan mempunyai teman)

49. Qul al-haqqo walau kana murron
(Katakanlah yang benar itu walaupun pahit)

50. Khoiru malika ma nafa’aka
(Sebaik-baik hartamu adalah yang bermanfaat bagimu)

Dikutip Buku “10 Jalan Sukses Menghidupkan Prinsip Man Jadda Wajada” (Akbar Zainudin)