![]() |
| Kyai Kanjeng & Cak Nun |
Adakah kita tahu apa yang sebenarnya
sedang kita jalani. Bersediakah sebenarnya kita untuk tau persis apa yang
sesungguhnya kita cari. Cakrawala manakah yang menjadi tujuan sebenarnya
langkah-langkah kita. Pernahkah kita bertanya bagaimana cara melangkah yang
benar. Pernakah kita mencoba menyesali hal-hal yang barangkali, perlu kita
sesali, dari prilaku-prilaku kita yang kemarin. Bisakah kita menumbuhkan
kerendah hatian dibalik kebanggaan-kebanggaan.
Masih tersediakah ruang di dalam dada
kita dan akal kepala kita, untuk sesekali berkata pada diri kita sendiri bahwa
yang bersalah bukan hanya mereka. Bahwa yang melakukan dosa bukan ia tetapi
juga kita. Masih tersediakah peluang didalam kerendahan hati kita, untuk
mencari apapun saja yang kira-kira kita perlukan, meskipun barang kali
menyakitkan diri kita sendiri. Mencari hal-hal yang benar-benar kita butuhkan
supaya sakit, sakit, sakit kita ini benar benar sembuh total.
Sekurang-kurangnya dengan perasaan santai
kepada diri kita sendiri, untuk menyadari dengan sportif. Bahwa yang mesti
disembuhkan bukanlah yang berada diluar tubuh kita, tetapi didalam diri kita. Yang
perlu utama kita lakukan adalah penyembuhan diri. Yang kita yakini harus
betul-betul disembuhkan, justru adalah segala sesuatu yang berlaku didalam hati
dan akal pikiran kita. Saya ingin mengajak engkau semua memasuki dunia Lir Ilir.
"Lir ilir… Lir ilir… Tandure wus sumilir tak ijo
royo-royo tak sengguh temanten anyar."
Kanjeng Sunan Ampel seakan-akan baru hari ini, bertutur
kepada kita, tentang kita. Tentang segala sesuatu yang kita mengalaminya
sendiri, namun tidak kunjung sanggup kita mengerti. Sejak lima abad silam syair
itu telah Ia lantunkan, dan tak ada jaminan bahwa sekarang kita sudah paham.
Padahal kata-kata beliau mengeja kehidupan kita ini sendiri. Alfa, beta, alif,
ba’, ta’, kebingungan sejarah kita dari hari-kehari. Sejarah tentang sebuah
negeri yang puncak kerusakannya, terletak pada ketidak sanggupan para
penghuninya.
Untuk mengakui betapa kerusakan itu sudah sedemikian tidak
terperih. “Menggeliatlah dari matimu!” tutur sang Sunan. Siumanlah dari pingsan
berpuluh-puluh tahun, bangkitlah dari nyenyak tidurmu. Sungguh negeri ini
adalah penggalan Surga! Surga seakan-akan pernah bocor mencipratkan kekayaan
dan keindahannya. Dan cipratan keindahan itu bernama Indonesia Raya! Kau bisa
tanam benih kesejahteraan apa saja, diatas kesuburan tanahnya yang tidak
terkirakan. Ditengah hijau bumi kepulauan yang bergandeng-gandeng mesra.
Tapi kita memang telah tidak mensyukuri, rahmat sepenggal
surga ini. Kita telah memboroskan anugerah Tuhan ini dengan bercocok tanam
ketidakadilan, dan panen-panen kerakusan.
“Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi.
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dhodot iro.”
Kanjeng Sunan tidak memilih figur misalnya “Pak Jendral… Pak
Jendral…”. Juga bukan intelektual, ulama-ulama, seniman, sastrawan atau apapun,
tetapi cah angon.
Beliau juga menuturkan “penekno blimbing kuwi,” bukan “Penekno
pelem kuwi.”. Bukan “penekno sawo kuwi”, bukan penekno buah
yang lain, tapi belimbing, bergigir lima. Terserah apa tafsirmu tentang lima,
yang jelas harus ada yang memanjat pohon yang licin itu. “lunyu-lunyu
penekno” agar belimbing bisa kita capai bersama. Dan yang harus
memanjat adalah cah angon, anak gembala. Tentu saja dia boleh
seorang doktor, kyai, ulama, seniman, sastrawan atau siapapun.
Namun dia harus memiliki daya angon, daya
menggembalakan. Kesanggupan untuk ngemong semua pihak.
Karakter untuk merangkul dan memesrai siapa saja sesama saudara sebangsa.
Determinasi yang menciptakan garis besutan kedamaian bersama. Pemancar kasih
sayang yang dibutuhkan dan diterima semua warna, semua golongan, semua
kecendrungan. Bocah angon adalah pemimpin nasional, bukan tokoh golongan atau
pemuka suatu gerombolan.
Selicin apapun pohon-pohon tinggi reformasi ini, sang bocah
angon harus memanjat sampai selamat memperoleh buahnya. Bukan ditebang,
dirobohkan, atau diperebutkan. Dan air sari pati belimbing gigir lima itu,
diperlukan bangsa ini untuk mencuci pakaian nasionalnya. Pakaian adalah akhlak,
pakaian adalah yang menjadikan manusia bukan binatang. Kalau engkau tidak
percaya, berdirilah di depan pasar. Dan copotlah pakaianmu maka engkau
kehilangan harkatmu sebagai manusia.
Pakaianlah yang membuat manusia bernama manusia. Pakaian
adalah pegangan nilai, landasan moral, dan sistem nilai. Sistem nilai itulah
yang harus kita cuci dengan pedoman lima!
"Dhodot iro dhodot iro kumitir bedah ing pinggir,
dondom-ono jlumat ono-kanggo sebo mengko sore. Mumpung padhang rembulane
mumpung jembar kalangane yo surako surak iyo."
Satu tembang tidak selesai ditafsirkan dengan seribu jilid
buku. Satu lantunan syair tidak selesai ditafsirkan dengan waktu seribu bulan
dan seribu orang melakukannya. Aku ingin mengajakmu untuk berkeliling utuk
memandang warna-warni yang bermacam-macam dengan membiarkan mereka dengan
warnanya masing-masing. Agar kita mengerti dengan hati dan ketulusan kita. Apa
muatan kalbu mereka mengenai lir-ilir, mengenai ijo
royo-royo, mengenai temanten anyar, mengenai bocah
angon dan belimbing, mengenai mbasuh dodot iro dan
mengenai kumitir bedah ing pinggir.
Yang akan kita bicarakan tentu saja kapan saja bersama-sama.
Tapi aku ingin mengajakmu untuk mendengarkan siapa saja diantara sauara-saudara
kita tanpa perlu kita larang-larang untuk menjadi ini atau untuk menjadi itu.
Asalkan kita bersepakat bahwa bersama-sama mereka semua kita akan menyumbangkan
yang terbaik bagi semuanya. Bukan hanya bagi ini, atau itu, bukan hanya bagi
yang disini atau yang disana.
~Cak Nun
(bersambung ke renungan 2)
(bersambung ke renungan 2)

0 komentar:
Posting Komentar