"https://api.twitter.com/1/statuses/user_timeline/AndyNowiya.json?callback=twitterCallback2&count=1" "https://api.twitter.com/1/statuses/user_timeline.json?screen_name=AndyNowiya.json?callback=twitterCallback2&count=5"

Renungan Nusantara 2: 'Ilir-Ilir' Kanjeng Sunan Ampel

Kyai Kanjeng + Cak Nun 
"Dhodot iro dhodot iro kumitir bedah ing pinggir, pakaian kebangsaan kita, harga diri nasionalisme kita, telah sobek-sobek oleh tradisi penindasan, oleh tradisi kebodohan, oleh tradisi keserakahan yang tidak habis-habis. “Dondom-ono, jlumat-ono kanggo sebo mengko sore,” harus kita jahit kembali, harus kita benahi lagi, harus kita utuhkan kembali, agar supaya kita siap untuk menghadap ke masa depan. 
Memang kita sudah lir-ilir, sudah ngelilir sudah terbangun dari tidur, sudah bangun. Sudah bangkit sesudah tidur terlalu nyenyak selama 30 tahun atau mungkin lebih lama dari itu. Kita memang sudah bangkit, beribu-ribu kaum muda berjuta-juta rakyat sudah bangkit keluar rumah dan memenuhi jalanan. Membanjiri sejarah dengan semangat menguak kemerdekaan yang telalu lama diidamkan. Akan tetapi mungkin karena terlalu lama kita tidak merdeka, sekarang kita tidak begitu mengerti bagaimana mengerjakan kemerdekaan. Sehingga tidak paham beda antara demokasi dengan anarki.
Terlalu lama kita tidak boleh berpikir lantas sekarang hasil pikiran kita keliru-keliru sehingga tak sanggup membedakan mana asap mana api, mana emas mana loyang, mana nasi dan mana tinja! Terlalu lama kita hidup didalam ketidak menentuan nilai. Lantas sekarang semakin kabur pandangan kita, atas nilai-nilai yang berlaku dalam diri kita sendiri. Sehingga yang kita jadikan pedoman kebenaran hanyalah kemauan kita sendiri, nafsu kita sendiri, kepentingan kita sendiri.
Terlalu lama kita hidup dalam kegelapan, sehingga kita tidak mengerti bagaimana melayani cahaya, sehingga kita tidak becus mengurusi bagaimana cahaya terang. Sehingga  dalam kegelapan gerhana rembulan, yang membikin kita buntu sekarang. Kita junjung-junjung pengkhianat dan kita buang para pahlawan. Kita bela kelicikan dan kita curigai ketulusan.
~Cak Nun

(bersambung ke renungan 3)


0 komentar:

Posting Komentar