| Kyai Kanjeng + Cak Nun |
"Dhodot iro dhodot iro kumitir
bedah ing pinggir, “ pakaian
kebangsaan kita, harga diri nasionalisme kita, telah sobek-sobek oleh tradisi
penindasan, oleh tradisi kebodohan, oleh tradisi keserakahan yang tidak
habis-habis. “Dondom-ono, jlumat-ono kanggo sebo mengko sore,” harus kita
jahit kembali, harus kita benahi lagi, harus kita utuhkan kembali, agar supaya
kita siap untuk menghadap ke masa depan.
Memang kita sudah lir-ilir, sudah ngelilir sudah terbangun dari tidur, sudah bangun. Sudah bangkit
sesudah tidur terlalu nyenyak selama 30 tahun atau mungkin lebih lama dari itu.
Kita memang sudah bangkit, beribu-ribu kaum muda berjuta-juta rakyat sudah
bangkit keluar rumah dan memenuhi jalanan. Membanjiri sejarah dengan semangat
menguak kemerdekaan yang telalu lama diidamkan. Akan tetapi mungkin karena
terlalu lama kita tidak merdeka, sekarang kita tidak begitu mengerti bagaimana mengerjakan
kemerdekaan. Sehingga tidak paham beda antara demokasi dengan anarki.
Terlalu lama kita tidak boleh berpikir
lantas sekarang hasil pikiran kita keliru-keliru sehingga tak sanggup
membedakan mana asap mana api, mana emas mana loyang, mana nasi dan mana tinja!
Terlalu lama kita hidup didalam ketidak menentuan nilai. Lantas sekarang semakin
kabur pandangan kita, atas nilai-nilai yang berlaku dalam diri kita sendiri. Sehingga
yang kita jadikan pedoman kebenaran hanyalah kemauan kita sendiri, nafsu kita sendiri,
kepentingan kita sendiri.
Terlalu lama kita hidup dalam
kegelapan, sehingga kita tidak mengerti bagaimana melayani cahaya, sehingga
kita tidak becus mengurusi bagaimana cahaya terang. Sehingga dalam kegelapan gerhana rembulan, yang
membikin kita buntu sekarang. Kita junjung-junjung pengkhianat dan kita buang
para pahlawan. Kita bela kelicikan dan kita curigai ketulusan.
~Cak Nun
(bersambung ke renungan 3)
~Cak Nun
(bersambung ke renungan 3)
0 komentar:
Posting Komentar