![]() |
| Senja di cakrawala |
“Selamat
tahun baru Islam mas.” sapa salah seorang bapak mekanik di lapangan. Sambil
nyodorkan tangan dan mengulum senyum, ngajak salaman. Salam bahagia dari seorang
pekerja keras yang nggak dapet jatah hari libur kayak pekerja kantoran. Namun beliau
nampak tetap sumringah menikmati permulaan
Hijriah, tahun baru Islam. Momentum hijrahnya Nabi Muhammad, pemimpin pergerakan
umat manusia. Tahun mulia yang malah aku hampir nggak ingat, apalagi ngucapkan
salam bahagia seperti bapak tadi.
Kebetulan
kulirik salah satu kanal tivi, lagi tampil penceramah paruh baya yang populer sama
gaya tawa khasnya. Mbawakan materi yang cocok sama momentum hari ini. “Hijrah
dalam Islam ada tiga arti: hijrah perbuatan, hijrah pergaulan, dan hijrah
berpindah.” begitu mulanya. Hijrah perbuatan misalnya buang jauh perilaku buruk
yang jadi kebiasaan. Simpelnya, yang doyan
maksiat mulai dikurangi sedikit-sedikit, tambah yang baik-baik, nanti bisa jadi
bener.
Kalo
hijrah pergaulan contoh populernya, dekat-dekat sama tukang las pasti bajunya
bolong-bolong, kalau dekat penjual wangi-wangian pasti kena wanginya. Mudahnya,
tambah rekan-rekan berperilaku baik dan perkuat silaturahminya. Tapi tidak juga
tinggalkan temen yang belum bisa sama baiknya, karena bisa jadi nanti akan jauh
lebih baik lagi. Tergantung yang mbikin hati, mau mbalik hati mahluknya kapan,
umur berapa, dimana tempatnya, itu urusan Penciptanya.
Lha
kalau hijrah berpindah ini, silahkan diartikan sendiri sesuai selera dan pendapat
masing-masing. Anak lulus sekolah dasar pengen nyantri, bisa dikatakan hijrah. Lulus sekolah di desa mau kuliah di
kota disebut hijrah juga boleh. Bosan tinggal dikota, pengen berpetualang dari kampung ke kampung berniat “sosial-spiritual”
ya monggo. Nyoba tantangan merantau ngangsu
kawaruh ke daerah berbeda suku dan budaya juga nggak ada salahnya. Bisa-bisa
saja.
Sekedar
mengingatkan sabda Kanjeng Nabi seputar niat dan Hijrah, “Sesungguhnya setiap
perbuatan bergantung pada niatnya. Orang yang berhijrah diniatkan karena Allah
dan Rasulnya, maka hijrahnya dapat Allah dan Rasulnya. Dan siapa saja yang
berhijrah karena ingin menguasai dunia, atau karena wanita yang ingin
dinikahinya. Maka hijrahnya hanya dapat yang dia inginkan.” Cocok untuk diresapi
agar “nawaitu” nya tidak keliru.
Sekedar nasehat pribadi.
Guru
spiritual dikampus pernah berpesan, “Dekat-dekatlah dengan Allah. Namun jika
masih dalam proses pembelajaran, dekat-dekatlah dengan orang yang sudah dekat
dengan Allah.” Dimanapun dan kapanpun berada, pasti ada kesempatan mendekatkan
diri pada sang Pencipta. Kalau kesempatan itu belum datang, bisa dengan
berkawan dengan orang-orang yang dipercayai perbuatannya baik dan bisa ditiru.
Bisa guru, teman, atasan, atau mungkin bawahan.
Intinya,
momen tahun baru hijriah begini tidak dilewatkan begitu saja. Bisa juga
dijadikan momentum “hijrah” pada diri sendiri, dimulai dari hal yang paling
mudah, dari hal-hal kecil, dan mulai dari sekarang. Biasanya proses menuju
perbaikan diri lebih mudah terwujud, ketika bertemu momentumnya. Dengarkan
nasehat orang tua, simak petuah sesepuh di perkumpulan atau komunitas, atau renungkan
bersama rekan-rekan senasib seperantauan. J

2 komentar:
lanjutkan mas bro
maturnuwun mas mblooo...
Posting Komentar