"https://api.twitter.com/1/statuses/user_timeline/AndyNowiya.json?callback=twitterCallback2&count=1" "https://api.twitter.com/1/statuses/user_timeline.json?screen_name=AndyNowiya.json?callback=twitterCallback2&count=5"

Hijrah Perbuatan, Pergaulan dan Perantauan

Senja di cakrawala
“Selamat tahun baru Islam mas.” sapa salah seorang bapak mekanik di lapangan. Sambil nyodorkan tangan dan mengulum senyum, ngajak salaman. Salam bahagia dari seorang pekerja keras yang nggak dapet jatah hari libur kayak pekerja kantoran. Namun beliau nampak tetap sumringah menikmati permulaan Hijriah, tahun baru Islam. Momentum hijrahnya Nabi Muhammad, pemimpin pergerakan umat manusia. Tahun mulia yang malah aku hampir nggak ingat, apalagi ngucapkan salam bahagia seperti bapak tadi. 
Kebetulan kulirik salah satu kanal tivi, lagi tampil penceramah paruh baya yang populer sama gaya tawa khasnya. Mbawakan materi yang cocok sama momentum hari ini. “Hijrah dalam Islam ada tiga arti: hijrah perbuatan, hijrah pergaulan, dan hijrah berpindah.” begitu mulanya. Hijrah perbuatan misalnya buang jauh perilaku buruk yang jadi kebiasaan. Simpelnya, yang doyan maksiat mulai dikurangi sedikit-sedikit, tambah yang baik-baik, nanti bisa jadi bener.
Kalo hijrah pergaulan contoh populernya, dekat-dekat sama tukang las pasti bajunya bolong-bolong, kalau dekat penjual wangi-wangian pasti kena wanginya. Mudahnya, tambah rekan-rekan berperilaku baik dan perkuat silaturahminya. Tapi tidak juga tinggalkan temen yang belum bisa sama baiknya, karena bisa jadi nanti akan jauh lebih baik lagi. Tergantung yang mbikin hati, mau mbalik hati mahluknya kapan, umur berapa, dimana tempatnya, itu urusan Penciptanya.
 Lha kalau hijrah berpindah ini, silahkan diartikan sendiri sesuai selera dan pendapat masing-masing. Anak lulus sekolah dasar pengen nyantri, bisa dikatakan hijrah. Lulus sekolah di desa mau kuliah di kota disebut hijrah juga boleh. Bosan tinggal dikota, pengen berpetualang  dari kampung ke kampung berniat “sosial-spiritual” ya monggo. Nyoba tantangan merantau ngangsu kawaruh ke daerah berbeda suku dan budaya juga nggak ada salahnya. Bisa-bisa saja.
Sekedar mengingatkan sabda Kanjeng Nabi seputar niat dan Hijrah, “Sesungguhnya setiap perbuatan bergantung pada niatnya. Orang yang berhijrah diniatkan karena Allah dan Rasulnya, maka hijrahnya dapat Allah dan Rasulnya. Dan siapa saja yang berhijrah karena ingin menguasai dunia, atau karena wanita yang ingin dinikahinya. Maka hijrahnya hanya dapat yang dia inginkan.” Cocok untuk diresapi agar “nawaitu” nya tidak keliru. Sekedar nasehat pribadi.
Guru spiritual dikampus pernah berpesan, “Dekat-dekatlah dengan Allah. Namun jika masih dalam proses pembelajaran, dekat-dekatlah dengan orang yang sudah dekat dengan Allah.” Dimanapun dan kapanpun berada, pasti ada kesempatan mendekatkan diri pada sang Pencipta. Kalau kesempatan itu belum datang, bisa dengan berkawan dengan orang-orang yang dipercayai perbuatannya baik dan bisa ditiru. Bisa guru, teman, atasan, atau mungkin bawahan.
Intinya, momen tahun baru hijriah begini tidak dilewatkan begitu saja. Bisa juga dijadikan momentum “hijrah” pada diri sendiri, dimulai dari hal yang paling mudah, dari hal-hal kecil, dan mulai dari sekarang. Biasanya proses menuju perbaikan diri lebih mudah terwujud, ketika bertemu momentumnya. Dengarkan nasehat orang tua, simak petuah sesepuh di perkumpulan atau komunitas, atau renungkan bersama rekan-rekan senasib seperantauan. J


2 komentar:

Refki Kaha mengatakan...

lanjutkan mas bro

Unknown mengatakan...

maturnuwun mas mblooo...

Posting Komentar